Pages

Wednesday, August 21, 2013

tersaruk, terjungkal.....

sekitar jam 3 dinihari pagi tadi saya duduk dilantai sementara suami ada di sofa seperti biasa didepan laptopnya, saya sentuh tangannya;

  • mbi, maafkan yah....
  • menengok kearah saya yang bersimpuh di lantai 
  • i'm not smart.....
  • kenapa, tanyanya
  • mi, ga bisa jawab pertanyaanya syauqi
  • Alhamdulillah, dia pintar dan kritis, bukan berarti kamu gak pintar, tentu saja ditambah komentar praktis khas suami "catat ajah, pakai buku tar kita bahas bareng-bareng"
  • ayang ney, pas dibahas anaknya udah ga minat, saya ngeloyor pergi 

tersaruk-saruk... jujur, yah itu yang saya rasakan dalam menjalani HE dirumah kami, catat "saya" bukan anak-anak, betapa pertanyaan anak-anak bisa membuat saya terlongo-longo, seperti ketika syauqi bertanya kenapa ada pohon yang berduri, saya bangun malam-malam untuk meluangkan waktu mencari tahu, dan ketika keesokan paginya saya ajak membahas dia sudah tidak terlalu tertarik, ketika dia mulai minta belajar bahasa mandarin saya mesti kelimpungan buka buku kursus saya yang sudah lama berdebu tak pernah saya buka lagi, lalu mencari tempat kursus bersama, ketika saya kira dia sudah tidak berminat, ternyata dia "menagih" kapan kita mulai les bahasa mandarin mi? bagaimana saya berusaha untuk membuat blog yang baik, demi mendokumentasikan HE dirumah kami. Dihiasi dengan malam-malam yang kurang tidur untuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan syauqi yang tak mampu saya jawab, Malam-malam yang saya habiskan dengan membaca blog teman-teman yang lebih dulu menjalan kan HS/HE (seringnya makin merasa bersalah dan kecil), website yang direkomendasikan, membaca buku-buku, untuk mencari tau jawaban pertanyaan-pertanyaan syauqi yang tak terjawab di siang hari, kalang kabut mengerjakan pekerjaan rumah, sampai mengirim setrikaan ke laundry. 

Terjungkal-jungkal yah itu yang saya rasakan, ternyata mengatur waktu tak seindah yang saya bayangkan, pekerjaan rumah, kegiatan lingkungan, membereskan beberapa urusan (ehem) kantor yang tercecer. ternyata 24 jam dirumah pun terasa tak cukup, merasa bersalah karena terlalu banyak tidur, padahal cucian piring menumpuk. 

yah bahkan setelah 3 bulan berada dirumah saya masih merasa tersaruk-saruk dan terjungkal-jungkal.

tentu saja tidak berarti saya tidak bahagia.... Alhamdulillah saya sangat menikmatinya, hingga betapa 24 jam terasa sangat kurang.......

Makin lama terjun menjadi pelaku HS/HE saya makin sadar betapa kurangnya pengetahuan saya selama ini, jadi berpikir apa yang saya pelajari selama ini, merasa betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk mempedulikan hal-hal yang tidak essential dan melupakan hal-hal yang sesungguhnya "penting" Insya Alloh belum terlambat untuk belajar, meskipun jatuh bangun, tersaruk-saruk dan terjungkal, Umi akan terus berjalan nak, untuk belajar bersama kalian.

Wednesday, August 14, 2013

School of Life

Yup, School of Life

Buat saya itulah arti Home education buat saya, dimana kita belajar dari dan untuk hidup, karena hidup tidak melulu ujian, dan menghasilkan peringkat serta nilai sebagai hasil akhirnya

Dirumah, kita tidak melakukan ujian mencuci piring, memberi nilai untuk keahlian menanam dan ada peringkat untuk yang mencuci dan menyetrika terbaik, kenyataanya sering saya menyaksikan sedih sekali pekerjaan ini sering kali dilupakan, seakan baju bersih tersedia dengan sendirinya, masakan yang bergizi bisa dengan tiba-tiba ada di meja, rumah bisa rapi hanya dengan ditinggal tidur siang.

Padahal dari kehidupan lah kita belajar, kita belajar kesabaran dari celoteh dan polah laku anak-anak kita, ketika hari telah larut, lelah melanda dan mereka masih asyik dengan berbagai aktivitas yang menyisakan tumpukan mainan, pakaian kotor, dan sederet pekerjaan rumah yang lain, buat kami inilah salah satu pelajaran sabar yang telah semesta sediakan untuk kita.

Time management? jangan tanya lagi tentu saja, bagaimana bisa mengurus Rumah, memastikan ada makanan berkualitas di meja makan, pakaian yang bersih setiap saat, dan tetap menjalankan fungsi utama sebagai pelaku/penanggung jawab pendidikan anak-anak, belum lagi jadwal ke dokter (dokter gigi, vaksinasi, Med check up) Bergabung dengan klub? les? play date dengan sahabat anak-anak? saya kira hanya seseorang dengan time management yang baik yang bisa memastikan semua itu berjalan dengan baik dan sesuai jadwal. and everybody happy.

Science? Math? pernahkah kita berpikir ada berapa proses kimia yang terjadi ketika kita membuat tape ketan? berapa komposisi yang baik antara pakaian dengan sabun cuci, berapa liter air yang dibutuhkan, pernahkah kita memikirkannya.

Auditor,or accounting manager? well pernahkah kita menghitung berapa rasio antara pendapatan dengan kredit, produk investasi? investasi apa saja yang kita pilih? bagaimana kemanannya? evaluasi pengeluaran bulanan apakah sudah sesuai postingnya? butuh kemampuan yang handal jika kita mau memikirkannya.
Seorang perencana yang baik tentu akan mempertimbangkan dengan baik, dimana akan menginvestasikan dana pensiun, asuransi setelah pensiun, kemana rencana pendidikan anak-anak berapa biaya di masa depan dan berapa yang harus mulai kita persiapkan sekarang.

Tentu saja, kursus-kursus, sekolah-sekolah mempunyai metode yang baik untuk mengajarkan siswanya ilmu sesuai bidang yang diajarkan, banyak orang yang berhasil dengan pola ini, well saya adalah produk sekolahan, berhasil atau tidak sepertinya terlalu subyektif jika saya yang menilai.

Namun sementara ini, kami memilih jalan ini, bahwa Alloh menyediakan kurikulum terbaiknya, kapan semestinya anak-anak belajar adab? rutin melaksanakan sholat? adab sendiri begitu beragam, adab mandi, adab bertetangga, dan dalam segala aspek kehidupan, sudahkah kita mempelajarinya dan mengajarkannya kepada anak-anak kita?
Dan kembali ke awal bahwa saya yakin hidup sendiri sudah sekolah terbaik untuk kita, pilihan kita saja untuk mau membuka mata terbuka betapa luas ilmu Alloh tersedia atau tetap terkotak-kotak bagaimana cara "belajar" dan melupakan rutinitas sehari hari sebagai wahana belajar yang begitu agung.

Pertanyaan/Pernyataan yang hampir "Dilarang" ditanyakan ketika reuni atau kumpul keluarga


  1. Kapan nikah?
  2. Kok belum nikah juga? udah lama khan pacaran?
  3. Mau milih yang kaya apa lagi sey?? ganti ganti pacar mulu
  4. Tante/bulik/Budhe ada kenalan anaknya ganteng/cantik lo mau ga dikenalin?
Biasanya yang ditanya bakal jawab dengan variasi mulai dari senyum manis sampai yang pasang tampang mau jedotin kepala ke tebing.
Oke itu masalah pasangan hidup, selanjutnya menurut saya lebih tidak sensitif
  1. Kok belum punya momongan? sengaja tunda? Udah di Cek salahnya dimana?
  2. Udah coba ke dokter anu yang di anu katanya bagus lho?
  3. udah coba bayi tabung? di sana tuh klinik anu "emang sey "agak" mahal
  4. Mendadak begitu banyak saudara yg tau "orang pintar" yang punya resep Tokcer bikin cepet hamil.
Buat saya pertanyaan diatas sungguh sangat tidak sensitif dan tidak manusiawi, apalagi dibahas didepan umum, aduuuhhh ga etis sekali.

Well sebenernya buat para obyek (korban) pertanyaan-pertanyaan itu tentunya sudah menggelendoti mata mereka tiap hari (gajah di pelupuk mata) tak perlu lagi disuarakan dengan lantang, pastinya tak lelah sudah untaian Doa dialunkan.....

Alhamdulillah, berada di usia yang "wajar" menikah dan punya 2 orang anak tentu saja menghindarkan saya dari pertanyaan standar diatas.... selanjutnya adalah pertanyaan/pernyataan standar yang lain:

Masalah Fisik:
  1. Gemukan nih? diet donk tar bosen lo suami/istri nya
  2. kok kurusan pakai $%$&& yah atau ke klinik mana?
  3. eh putihan pake pemutih yah? ati2 lho ke dokter abal-abal
  4. eh kok lain banget ya, perasaan dulu laaaiiinnn faktor "U" yah.....
Masalah Tentengan
  1. Eh mobil baru yah? ooohh bukan? kirain kamu dah bisa beli mobil gitu
  2. ehh tas nya keren? Asli ga tuh? KW mangga dua yah?
  3. Kerja dimana? gajinya kurang oke yah?
  4. Eh rumah masih kontrak? coba kredit sendiri donk
Masalah anak-anak
  1. Anakmu kok kurus, susunya ganti tuh kurang bergizi
  2. ihhh gendut banget obesitas lho
  3. Maen gadget terus sey, kapan mainnya, 
  4. dduuuhh ga bisa diem yah lari-lari terus, bawa ke dokter tuh siapa tau ADHD
  5. Belum bisa baca?? berhitung?? umur segituuu 
Percayalah, pertanyaan pertanyaan diatas hanya memberikan memory yang mengerikan untuk sebuah "reuni" atau pertemuan Keluarga

Saya ga ngerti kenapa kebanyakan percakapan diawalai dengan pertanyaan yang serba "wow" seperti itu, saya kira lebih banyak kalimat "ice breaking" yang lebih manusiawi seperti:
  • Apa Kabar? Sehat? sekarang tinggal di kota mana? kotanya enak ga?
  • Habis ini mau kemana jalan2 yuk? cari jajanan di pak itu tuh, dulu enak banget khan yah?
Atau pertanyaan yang berbau masa lalu:
  • Pak Anu masih ngajar ga yah?
  • Atau kenangan masa kecil di acara keluarga, kayak kecemplung kolam ikan atau ngabisin rambutan dikebon sampai mules-mules
  • Atau ga bisa bedain antara mancing dan menjala, ngambil seperlunya, sama abisin ajah semua....
Masih begitu banyak khan ide-ide yang lain, well Pertemuan keluarga saya gak gitu kok *act innocent anggota Trah Bani Aburrahman itu baik-baik buktinya pas ditawarin pertemuannya dibikin 2 tahun sekali gak pada mau, brarti kangen terus khan.



Friday, August 2, 2013

Yes we are a home school family

Then, There is time when you are realize that you are a homeschooler and this is absolutely one of them.

Yup tentu saja homeschooling di rumah kami sudah berjalan jauuuh sebelum ini, namun kadang butuh tamparan keras untuk mengingatkan kita, bahwa ya, saya seorang pelaku home education.
Meskipun bergabung di group para pelaku home education, yang pastinya sudah kenyang menghadapi yang seperti ini, tentu saja tamparan keras hanya akan berasa bila kita mengalaminya sendiri.
Tahun ini dari segi usia, waktunya mas syauqi masuk SD, tentu saja akan jadi tanda Tanya besar kenapa mas syauqi masih berada di rumah setiap hari.

And this is it, the kinda “hardship” began…… halah lebay bgt ga sey saya

Demi keamanan dan kenyamanan hidup maka peristiwa, tempat dan pelaku akan disamarkan hehehehehe tambah lebay. “siap ditimpuk pisang” long story short saya berada dalam sebuah forum dimana saya ditanya dan tidak dalam posisi untuk menjawab “semaunya”

Me, dan penanya (pe)

  • Anaknya Homechool
  • iyah
  • kenapa?
  • “senyam-senyum” pengen yang terbaik ajah bu (ingat itu adalah “forum” artinya ketika saya   jawab semua orang memperhatikan)
  • Kurikulumnya dr mana? Berkualitas ga? Kasian lo anaknya? HS dimana? Siapa yang ngajarin
  • mmmmmmm saya (jawab seperlunya masalah kurikulum)
  • (ini dia yang paling menyakitkan) harus dipikirkan dan dipertimbangkan, anaknya belajar apa, kalau kita mampu sey ga papa tai kalo kita sekedar menganggap diri kita mampu kasihan anaknya
  • eerrrrrrr mesam mesem, Insya Alloh bu, kalau yg ga mampu saya minta yang lebih mampu dan professional (abinya tentu saja)
  • Sebenernya apa sey alasannya? Kasian anaknya sosialisasinya gimana? Hidup bukan Cuma di rumah.
  • (mulai BeTe) justru bu, dengn HS anak saya bisa punya banyak teman, bisa banyak main, bisa banyak jalan-jalan ga Cuma dengan anak-anak yang sebaya (pssst ini jawaban terpanjang sepertinya dan saya langsung menyesalinya)
  • Lha itu, malah jalan-jalan, kita lg ngomongin sekolah!! (hadeeehhh) ini ga main-main lo masalah masa depan anak-anak, nanti mo HS terus ngga khan ntar SMP/SMA khan udah ga mampu tuh ngajari (deep sigh) gimana nanti anaknya? Apa gak shock sama suasana sekolahan?
  • Insya Alloh disiapkan (udah insyaf ga mau jawab panjang-panjang)
  • Memang saya tau kalau disekolah ga semua yang diajarkan baik, tapi itu justru gunanya, supaya anak belajar kehidupan bahwa hidup itu ga semua baik belajar adaptasi bagaimana menghadapi anak-anak yang nakal atau guru yang galak (kurang lebih maksudnya begitu)
  • Insya Alloh bu, saya siapkan untuk jadi yang terbaik.         

           Well,  maaf ibu tapi anak saya terlalu berharga untuk dikirim kesekolah hanya untuk di bully oleh teman dan gurunya,jika itu yang ibu maksud dengan adaptasi “sigh” saying saya ga berani jawab gitu, yes Coward me!

Forumnya dimulai, Alhamdulillah……..

Dari percakapan ini saya belajar sesuatu yang sangat berharga:

  1. Ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab, biarkan saja meskipun orang menganggap kita “tdk normal” karena banyak pertanyaan bukan bertujuan “bertanya” hanya bertujuan untuk menunjukkan bahwa jalan yang kita pilih adalah “salah”
  2. Akan ada banyak orang yang berpikir kita kurang kompeten untuk menjadi pelaku HS, menyakitkan memang tapi biarkan saja, jadikan “sabetan” pedes untuk membuat kita lebih banyak belajar.
  3. Banyak sekali orang yang men salah artikan istilah HS (thanks to them who sell education) tapiii sebenernya juga ga kepengen tau yang bener just don’t waste your time on them.
  4. Seperti kata para senior, bahwa apapun yang kamu katakan tidak akan merubah pendirian saya tentang pemilihan metode pendidikan untuk keluarga saya, Vice Versa maka tidak perlu menjelaskan HS pada mereka karena mereka juga tidak akan merubah pendiriannya.
  5. School is not for everyone, so does Home school.


Well, saya adalah seorang pelaku Home education, karena kami merasa itu yang terbaik untuk keluarga kami, setidaknya saat ini, besok, nanti apakah akan berubah, Wallohu A’lam, karena tentu saja saya tidak tau apa yang akan terjadi didepan.

Apabila banyak keluarga lain lebih memilih sekolah saya yakin karena itu adalah yang terbaik bagi keluarga mereka.