Pages

Saturday, September 14, 2013

Mudik, dan ternyata memang belajar itu dimana saja


11 hari berlibur dengan rute cirebon-purwokerto-banjarnegara-purwokerto-cirebon, bertemu dengan bagitu banyak sanak saudara terasa begitu berwarna, Ada yang berbeda dengan lebaran tahun ini, syauqi yang sudah 6 tahun sudah jauh lebih mandiri dibanding tahun-tahun sebelumnya, sudah bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, menjaga adiknya, berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lebih baik (ehem!! Meskipun ada insiden “instruction”).
Di purwokerto meskipun diawali dengan tsaqib yang merusakkan alat komunikasi milik mbah, “maaf yah mbah” semua terasa jauh lebih lancar dibanding tahun-tahun yang lalu, cucu-cucu mbah di purwokerto memang mempunyai range usia yang lumayan dari 16 thn s/d baru lahir, disini saya sangat bersyukur melihat kemampuan berkomunikasi syauqi dan tsaqib, tidak ada kesulitan yang berarti untuk berkomunikasi dengan sepupu-sepupunya, bermain bersama, berbagi, meskipun akhirnya lebih banyak bergerumbul dengan yang selisih usianya tidak terlalu jauh, tapi saya sangat merasakan perbedaan dibanding tahun-tahun yang lalu, sekarang syauqi lebih percaya diri, untuk mengemukakan keinginannya, baik kepada kami, orang tuanya, kakek-neneknya maupun ke saudar-saudara yang lebih tua meskipun jadi PR besar buat kami, karena ternyata kami punya standar kesopanan yang sedikit “berbeda” ada banyak hal yang saya beri point khusus untuk mudik kali ini:
  • Alhamdulillah tidak rewel dijalanan, syauqi mulai bisa memperhatikan jalanan, menghapalkan tempat, dan menghibur adiknya, meskipun perjalanan pulang sangat macet dan bekal di mobil menipis. Syauqi dan Tsaqib tetap menikmati perjalanannya.
  • Saya sangat bangga ketika syauqi dengan bisa berkomunikasi dengan baik dengan para remaja (yup teenagers) tidak takut untuk mengeluarkan pendapatnya, berkata “tidak” bila tidak setuju, tapi tetap menghargai pilihan orang lain, salah satunya adalah berebut televisi, hmm klasik sekali yah, saya bangga dia bisa berkata, “aku ga mau nonton itu, itu ga baik” namun memlih untuk menyingkir ketika yang lain tetap mau menonton, dan juga untuk banyak hal lain.
  • Mulai bertanggung jawab pada barang-barang miliknya, sudah mulai bisa mengingat barang-barangnya dan menyimpan dengan baik supaya tidak tertinggal, meskipun tetap ada insiden kecil “ketinggalan” namun saya sudah sangat bersyukur untuk kemajuannya ini, Alhamdulillah.
  • Bertanggung jawab atas adiknya, Alhamdulillah ini saya sungguh berbangga hati, meskipun dengan caranya sendiri syauqi mulai bertanggung jawab pada adiknya, sepertinya ini dimulai ketika kami mengajak mereka ke masjid dan saya atau abinya bilang syauqi jaga adiknya yah, umi dan abi sholat. Beberapa kali saya titipkantsaqib padda syauqi, meskipun dengan menjerit-jerit dia akan memberi tahu ketika dia merasa adiknya sudah diambang “bahaya” misalnya mau menyebrang jalan, bermain pisau atau menarik-narik kabel listrik
  • Membaur dengan baik, dengan siapa saja, dimana saja, ini yang saya sangat bersyukur Alhamdulillah, terbiasa untuk bergau dengan siapa saja tidak dibatasi usia membuat syauqi dan tsaqib terbiasa untuk berada di banyak lingkungan, tidak harus melulu diantara anak-anak.
  • Oyah management amplop alias angpao juga sudah bisa diterapkan buat syauqi, bangga sekali ketika dia menyebutkan angka yang lumayan besar untuk pos “Donate” sedekah kata syauqi, Subhanalloh, umi dan abi bangga sekali padamu nak.

Tentunya mudik juga berarti, makan-makan dan makan-makan bebas masak (ehem) karena dikelilingi koki-koki handal, silaturahim ke banyak tempat banyak keluarga dan....... syauqi dapat angpao. Banyak yang mungkin tak terangkum disini, tapi semakin lama semakin merasa bahwa belajar itu selamanya, dimana saja, kalau kita mau menyadarinya.

No comments:

Post a Comment