Muali pertengahan juni saya mulai
menjalankan 24/7 shift alias tidak lagi punya kewajiban sebagai ibu bekerja,
maaf tapi posting kali ini bukan membahas tentang ibu bekerja VS ibu rumah
tangga.
Ini adalah tentang adaptasi, adaptasi saya,
adaptasi anak-anak, mungkin adaptasi suami juga meskipun tidak terlalu terlihat, piss mbi
Meskipun sebelumnya anak-anak sempat ikut
saya ke kantor setiap hari selama beberapa jam, dengan kata lain tetap nyaris
seharian tetap bersama saya, tentu saja suasananya sangat berbeda, karena tetap
ada ritme yang berbeda, ketergesa-gesaan dan tight schedule, jam sekian harus
siap, jam sekian sudah harus ikut saya, dan lain-lain.
Semula impian saya adalah ketika saya
dirumah adalah semuanya indah, semua bisa bersama-sama, dan segala impian indah
lainnya, ternyata tentu saja realitanya tidak semudah itu, meskipun bekerja
dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah dan bisa membawa anak ke
kantor, anak-anak sepertinya dibawah sadar mereka tahu bahwa mereka harus
mandiri, karena saya “masih” punya tanggung jawab yang lain, ini membuat mereka
cenderung lebih cekatan, dan mandiri, karena mereka ikut terlibat hampir dalam
semua kegiatan saya, misalnya ketika hari tertentu saya harus menitipkan mereka
di daycare, mereka harus siap lebih pagi, karena perjalanan yang tidak dekat,
demikian juga ketika hari les, atau berkunjung ke rumah teman.
Ketika saya berada dirumah hari-hari
pertama yang saya rasakan adalah, anak-anak jadi jauuh lebih manja, bangun
lebih siang, dan ber santai-santai dalam banyak hal, dan mereka yang terbiasa
mengurus kepentingannya sendiri seperti
Meletakkan baju kotor
Menyiapkan meja makan, dan membereskan
sesudah makan
Membereskan sendiri mainannya
Tiba-tiba menjadi kurang disiplin. Sayapun
mencoba mengevaluasi apa yang salah, kemudian saya mencoba menarik kesimpulan
Umumnya ketika mengerjakan sesuatu kami
dikejar agenda berikutnya, misal, umi siapin makan, kalian beresin meja, habis
makan cepat beres-beres, mas dan adik ikut umi ke kantor, atau ke daycare. Waktu
yang terbatas, itu yang selama ini kami hadapi, ketika saya ada selalu ada di
sekitar mereka maka waktu jadi tidak terbatas lagi.
Yang semula sudah tidur terpisah mendadak minta ditemani setiap
malam, atau tiba-tiba pindah ke kamar kami ditengah malam.
Ketika saya mencoba melakukan evaluasi maka
kesimpulannya adalah “saya” penyebabnya, me and my guilty feeling, bisa selalu
berada bersama anak-anak membuat saya “over excited” dan kurang
konsisten , dan inilah saatnya kami semua beradaptasi, saya tentunya untuk bisa
lebih konsisten, berlatih untuk berkata “tidak” sesekali kepada anak-anak,
selanjutnya tentu syauqi dan tsaqib, bahwa saya selalu ada dirumah bukan
berarti bermanja-manja setiap saat.
Dan hari ini lebih dari
tiga bulan saya dirumah, Alhamdulillah kondisinya sudah sangat membaik, syauqi
bahkan sudah mulai membantu adiknya berganti pakaian, meskipun tentu saja
pasang-surut tetap saja terjadi, tapi saya selalu berusaha menikmatinya,
bersyukur setiap saat, Alhamdulillah, karena saya bangga atas keputusan yang
telah saya ambil, dan kini waktunya menjalaninya, dengan bahagia, bersama-sama,
Insya alloh. Semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin.
No comments:
Post a Comment