sekitar jam 3 dinihari pagi tadi saya duduk dilantai sementara suami ada di sofa seperti biasa didepan laptopnya, saya sentuh tangannya;
- mbi, maafkan yah....
- menengok kearah saya yang bersimpuh di lantai
- i'm not smart.....
- kenapa, tanyanya
- mi, ga bisa jawab pertanyaanya syauqi
- Alhamdulillah, dia pintar dan kritis, bukan berarti kamu gak pintar, tentu saja ditambah komentar praktis khas suami "catat ajah, pakai buku tar kita bahas bareng-bareng"
- ayang ney, pas dibahas anaknya udah ga minat, saya ngeloyor pergi
tersaruk-saruk... jujur, yah itu yang saya rasakan dalam menjalani HE dirumah kami, catat "saya" bukan anak-anak, betapa pertanyaan anak-anak bisa membuat saya terlongo-longo, seperti ketika syauqi bertanya kenapa ada pohon yang berduri, saya bangun malam-malam untuk meluangkan waktu mencari tahu, dan ketika keesokan paginya saya ajak membahas dia sudah tidak terlalu tertarik, ketika dia mulai minta belajar bahasa mandarin saya mesti kelimpungan buka buku kursus saya yang sudah lama berdebu tak pernah saya buka lagi, lalu mencari tempat kursus bersama, ketika saya kira dia sudah tidak berminat, ternyata dia "menagih" kapan kita mulai les bahasa mandarin mi? bagaimana saya berusaha untuk membuat blog yang baik, demi mendokumentasikan HE dirumah kami. Dihiasi dengan malam-malam yang kurang tidur untuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan syauqi yang tak mampu saya jawab, Malam-malam yang saya habiskan dengan membaca blog teman-teman yang lebih dulu menjalan kan HS/HE (seringnya makin merasa bersalah dan kecil), website yang direkomendasikan, membaca buku-buku, untuk mencari tau jawaban pertanyaan-pertanyaan syauqi yang tak terjawab di siang hari, kalang kabut mengerjakan pekerjaan rumah, sampai mengirim setrikaan ke laundry.
Terjungkal-jungkal yah itu yang saya rasakan, ternyata mengatur waktu tak seindah yang saya bayangkan, pekerjaan rumah, kegiatan lingkungan, membereskan beberapa urusan (ehem) kantor yang tercecer. ternyata 24 jam dirumah pun terasa tak cukup, merasa bersalah karena terlalu banyak tidur, padahal cucian piring menumpuk.
yah bahkan setelah 3 bulan berada dirumah saya masih merasa tersaruk-saruk dan terjungkal-jungkal.
tentu saja tidak berarti saya tidak bahagia.... Alhamdulillah saya sangat menikmatinya, hingga betapa 24 jam terasa sangat kurang.......
Makin lama terjun menjadi pelaku HS/HE saya makin sadar betapa kurangnya pengetahuan saya selama ini, jadi berpikir apa yang saya pelajari selama ini, merasa betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk mempedulikan hal-hal yang tidak essential dan melupakan hal-hal yang sesungguhnya "penting" Insya Alloh belum terlambat untuk belajar, meskipun jatuh bangun, tersaruk-saruk dan terjungkal, Umi akan terus berjalan nak, untuk belajar bersama kalian.
No comments:
Post a Comment