Pages

Sunday, September 22, 2013

Berusaha melewatinya, itu saja

Begitu banyak moment yang ketika kita menhalaninya begitu terasa melelahkan, menguras emosi dan air mata, tetapi bila mengenangnya kita bisa terbahak-bahak karenanya, terasa akrab bukan? Yah karena begitulah moment keseharian kita... bersama anak-anak khususnya, terasa menggemaskan ketika dijalani namus lucu untuk dikenang, itulah sebabnya saya berpikir bahwa:
"ketika saya mengalami suatu moment yang menggemaskan, yang perlu saya lakukan adalah melewatinya, tenang.... sebentar saja, karena setelah itu saya yakin moment itu indah untuk dikenang"

Kemarin, saya mengawali pagi dengan bangun sedikit kesiangan, membuat segalanya terasa terburu-buru sejak pagi, ditambah beberapa agenda yang melibatkan tukang Service AC, dan serangga dan komplotannya yang membawa hasil membersihkan rumah beberapa kali, membuat badan sedikit lelah di sore hari, meskipun sempat "recharge" di salon setelah sekian lama tidak saling bersua, tetap merasa sedikit lelah di sore hari.

Seperti biasa ketika anak-anak ikut abinya ketika sholat maghrib, saya punya sedikit waktu untuk bergegas membersihkan rumah (lagi) mandi, kemudian "biasanya" sholat berjamaah dengan suami dirumah, entah mengapa sore itu begitu banyak yang dikerjakan dengan terburu-buru hingga menjelang sholat isya saya baru akan beranjak mandi, setelah sebelumnya kembali menyiapkan anak-anak untuk shalat isya berjamaah di masjid bersama suami.

Saya meninggalkan anak-anak dikamarnya, syauqi membaca asterix, tsaqib sedang asyik bermain, menyiapkan jahe panas untuk suami yang juga kelelahan setelah bersepeda seharian, terdengar suara suami yang menengok anak-anak ke kamar, suami berkomentar "anaknya luluran tuh!" saya menengok, tampak tsaqib memegang botol lotion (yang memang tergeletak di meja kamarnya) dan tangan serta kaki yang penuh terolesi lotion, tapi tunggu sebentar baunya sepertinya lain, saya menahan napas, entah kenapa sabun mandi yang biasanya ada dalam tas berenang syauqi ada di meja, tsaqib melumuri badannya dengan sabun, tsaqib yang baru saja saya mandikan dan gantikan baju koko untuk ke masjid, adzan berkumandang, terpaksa suami dan syauqi pergi ke masjid diam-diam, karena saya harus memandikan tsaqib lagi.

ketika saya memandikann tsaqib, saya teringat belum mematikan kompor, tadi sedang membuat jahe panas, sayapun berlari kedapur, ketika saya kembali tsaqib sudah membuka tutup selang dan menyemprotkan air tepat ke ruang tengah, ke depan televisi! dan ketika saya mengangkatnya untuk masuk ke kamar, saya tersadar bahawa seluruh badannya masih licin, ternyata dia kembali mengoleskan sabun cair yang ada di kamar mandi ke seluruh badannya (lagi) dan melemparkan botolnya ke dalam bak! saya pasrah menatap lantai yang becek (yang baruuu saja selesai saya bersihkan) dan berpikir berbahaya sekali kalau syauqi ulang, dan melihat bak yang berbusa, saya bergegas menggantikan baju tsaqib, meninggalkannya di kamar, mengepel lantai, melirik bak mandi dan berpikir mengsongkannya nanti, kembali berniat untuk mandi saya menengok tsaqib dulu ke kamar, dan..... dia memanjat kasur kakaknya membuka lemarinya, dan membuang sebagian isinya, berhamburan dimana-mana.... saya terdiam... suami dan syauqi datang (saya bahkan tak sempat bertanya, samapi saat ini kenapa mereka lumayan lama di masjid)

saya keluar kamar memeluk suami saya.... manarik napas lalu masuk ke kamar saya sendiri, dan mencoba berpikir, tunggu widya sebentarrr saja Insya alloh semua kejadian ini akan terasa lucu, saya kembali ke kamar, dan membereskan lemari sementara syauqi membawa banyak buku untuk dia dan adiknya, mungkin karena lelah tidak sengaja ibu jari saya terjepit pintu lemari dan berdarah, saya kembali menahan napas, menghembuskannya dan berkata... Astaghfirullah.

Ketika saya akhirnya selesai mandi saya mendengar syauqi berteriak memanggil saya, saya menahan napas, apa lagi? saya masuk ke kamar dan buku-buku bertebaran dimana-mana syauqi nampak kesal pada adiknya, saya memeluknya dan berkata, he just 3, lets talk to him nicely.

Lalu aktivitas malam pun berlalu seperti biasanya, membacakan buku, bercerita, sampai anak-anak tertidur, setelah itu baru membereskan buku-buku, yang sebagian ada dibawah kasur, kolong.... menata kembali rak buku sesuai kriteria, meletakkan mainan dalam kardus besar, rasanya tak ada tenaga untuk memisahkannya, dan berpikir, pasti ini akan terasa lucu ketika saya menuliskannya.

Dan ternyata,  YA memang terasa menakjubkan untuk anak seusia tiga tahun tsaqib luar biasa kreatif dan cekatan, dan tentu saja Multitasking, meskipun saat ini jempol saya masih terasa cenut-cenut, terasa indah ketika baru saja syauqi mengeceknya dan berkata, sudah sembuh umi? sambil mengelus ibu jari saya. Alhamdulillah

Saturday, September 21, 2013

Sedikit kegiatan anak-anak

Ats-Tsaqib (3 Y) dikelas robotic, sebenernya belum rela "bayi" kecilku ikutan les, tapi anter jemput mas-nya bikin adiknya merangek pengan ikutan juga

Latihan Electone (belum punya piano)


Kegiatan rutin tiap pagi, jalan-jalan dan lari pagi



Friday, September 20, 2013

Infak kok 5 ribu terus...

Mempersiapkan anak-anak sholat Jumat seperti biasa, agar ketika abinya menjemput sudah siap, seperti biasa saya menyiapkan uang untuk infak

syauqi: Mi, aku mau seratus ribu donk
Umi : buat infak sayang, lima ribu yah (saya pikir dia minta untuk disimpan)
Syauqi: Infak kok lima ribu terus, dua puluh ribu deh
saya terdiam, mengambil dompet dan memeberikan dua lembar uang sepuluh ribuan
Abi: Insya Alloh diganti yang lebih banyak (ternyata abi menyaksikan adegan barusan)
Umi: aamiin

Subhanalloh, rasanya tertampar sekali saya, yah Infak kok lima ribu terus, belanja baju bisa ratusan ribu, belanja buku bisa jutaan, kenapa belanja untuk Alloh, yang memberika rejeki cuma 5 ribu.

Alhamdulillah, terima kasih sayang, untuk mengingatkan umi, semoga Istiqomah, sholeh selalu nak, kapanpun, dimanapun, semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin

Thursday, September 19, 2013

Kegiatan di rumah kami

Sebenarnya, Homeschooling di rumah kami tentu saja sudah berlangsung sejak lama, karena belajar khan kapan saja, namun karena tahun ini "seharusnya" syauqi masuk sekolah formal atau Sekolah Dasar (SD, Primary, Elementary, Y1, you name it)

Konsep dasarnya tentu saja, Al Qur'an dan Al-Hadits, kurikulum terbaik yang ada di muka bumi ini, berusaha selalu mengembalikan pada Sang Pemilik Segalanya.... saya banyak melirik blognya mbak lina yang sudah menterjemahkannya dalam bentuk yang baik, sangat baik.

Buat kami syauqi sudah mau tidur terpisah diusia 6 tahun sesuai yang di sunahkan, sudah merupakan pencapaian yang luar biasa, Sholat 5 waktu, mau mengaji dan menghapal Qur'an sedikit demi sedikit, belajar adab sesuai yang dicontohkan oleh Manusia terbaik Rasululloh SAW, satu per satu, setapak demi setapak sedikit demi sedikit, itu saja sudah cukup buat kami, setidaknya saat ini, syauqi yang tidak merasa berat untuk sholat wajib berjamaah sudah merupakan pencapaian yang luar biasa menurut kami. Alhamdulillah

Maka Kegiatan dirumah kami pun tak banyak ragam, memastikan syauqi dan tsaqib siap disetiap waktu sholat, berjamaah bersama abi di masjid, atau bersama umi dirumah, Belajar IQRO dan menghapal surat dari Juz 30.

Pembagian waktunya umumnya;

  • anak-anak bangun tidur, sholat subuh 
  • olah raga ringan di sekitar rumah
  • Sarapan Buah dan makanan yang relatif ringan (sereal, sandwich, atau yang sejenis)
  • Olah raga diluar rumah, ke taman (play ground) atau ke kolam yang ada jalan setapak yang biasa kami jadikan jogging track, syauqi tiap pagi wajib lari sudah ada targetnya berapa putaran setiap harinya, disesuaikan tempatnya, tsaqib sey mengikuti saja. masih semaunya.
  • Pulang makan pagi (kadang mandi sebelum lari, atau sesudah lari)
  • Selanjutnya free time, ada kalanya mengerjakan worksheet, melukis, membuat hasta karya, saya membuat jadwal dan menyiapkan materi biasanya malam sebelumnya, hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau kami tidak memnemukan kegiatan yang menarik, prakteknya, bahan yang saya siapkan bisa tergeletak berhari-hari biasanya jalan-jalan dan lari pagi memberikan ide yang cukup untuk anak-anak. Di Hari les, free time ini diisi dengan les renang selasa dan kamis.
  • Selesai free time, biasanya mendekati waktu makan siang, saya memasak makan siang biasanya di pagi hari jadi siang hanya menghangatkan kalau perlu dan menyiapkan meja makan saja, syauqi biasanya yang menyiapkan meja makan.
  • kalau waktunya tidak terlalu mepet kadang kami makan siang sebelum adzan dzuhur, kadang setelah sholat berjamaah di masjid atau di rumah, tergantung apakah abi pulang makan siang atau tidak, karena syauqi dan tsaqib ke masjid bersama abi.
  • Setelah itu waktunya istirahat, tidur siang untuk tsaqib, syauqi sendiri sudah jarang tidur siang, tapi saya mewajibkan syauqi untuk istirahat, meskipun tidak tidur.
  • Kalau anak-anak tidur, biasanya saya menyiapkan keperluan makan malam, atau kalau syauqi tidak tidur ini jadi waktu reading time karena biasanya jam segitu suasan sangat lengang (komplek kami selalu lengang sebenarnya, tapi di jam sesudah makan siang jadi jauuuh lebing lengan mungkin karena panas, dan banyak orang tidur siang). di hari les maka sesudah waktu istirahat akan ada les robotic Selasa dan kamis jam 3 sore untuk syauqi, tsaqib hari selasa saja, tapi kamis ikut menemasi mas-nya les. dan Jumat untuk les piano jam 4 sore.
  • Syauqi mengikuti 3 les, Robotic , renang, dan piano. tsaqib 1, robotic saja, waktunya saya atur sehingga ada di free time pagi dan sore, sehingga tidak menggeser kegiatan wajib, dan saya padatkan hanya di 3 hari saja, selasa, kamis dan Jumat.
  • Setelah istirahat, atau setelah pulang les apabila belum terlalu sore, apabila abi pulang cepat, atau saya sudah menyiapkan makan malam, maka anak-anak akan keluar ke taman, atau lapangan (ada lap bola, basket dan tennis di dalam komplek) apabila bersama abinya berarti saya menyiapkan makan malam.
  • Selanjutnya sholat Maghrib berjamaah, mengaji Iqro, menghapal, kadang makan malam, kadang setelah berjamaah Isya baru makan malam, apabila belum mengantuk anak-anak bermain Wii, atau games di laptop atau Ipad, sesudah itu tidur. 
Oya seminggu sekali kami menyempatkan ke perpustakaan, baik perpustakaan dalam komplek maupun diluar, pada hari selasa atau jumat, saya memang sengaja menyiapkan senin dan rabu untuk hari yang "kosong" untuk menampung kegiatan kegiatan tak terjadwal.

Jadwal dirumah kami sangat fleksibel, tergantung bangunnya anak-anak, dan apabila tidak ada kegiatan yang Force majeure seperti menemani abi keluar kota, main kerumah teman, ikut umi arisan, atau acara-acara mendadak lainnya. Untuk wekend biasanya kami berkegiatan diluar, bulan ini kami mengkhususkan ke bangunan bersejarah, sebenernya awalnya ke masjid-masjid tua yang ada di kota kami, lama-lama merambah ke museum dan peninggalan bersejarah lainnya, termasuk menyusuri jalan Daendels atau Jalan Raya Pos.

Setahun dua kali kami menganggaran untuk field trip yang agak jauh dan lumayan lama, satu atau dua bulan sekali mengunjungi kakek nenek, (Alhamdulillah kediaman orang tua saya dan suami bida ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam jadi bisa sekali jalan)

Meskipun demikian, tetap saja banyak pertanyaan bermunculan, kurikulum apa yang dipakai (teteup) sebenarnya saya sangat tertarik pada konsep pendidikan Charlotte Mason meskipun tentu saja harus di adjust sana-sini untuk disesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami, namun saya sangat jatuh cinta pada Ide-Ide besarnya. Caranya menghargai anak-anak sebagai individu yang utuh. bagaimana menanamkan Ide-ide besar, bagaimana cara membangun kebiasaan yang baik, saya banyak menerapkannya, termasuk mengkoleksi buku-buku karya terbaik khusus untuk ini akan saya bahas sendiri, bagaimana saya kemudian jadi over budget membeli buku, uupsss my bad hehehehehe :D

Demikianlah seklumit kegiatan dirumah kami, semoga Alloh memudahkan segala ikhtiar kami. aamiin.

Uuppss sepertinya saya lupa meneyelipkan sosialisasi dalam daftar kegiatan kami :D

What They Said

diawali dengan,
  • Anaknya Homeschool?

Selanjutnya adalah

  1. Sosialisasinya gimana (paling banyak)
  2. Kurikulumnya gimana?
  3. Ijasahnya gimana?
  4. oohh Home Schooling K*k S**o? (paling menyebalkan)
Monggo kalau yang mau baca soal Sosialisasi,
Kurikulum, atau Ijazah, rasanya masih terlalu jauh saya tidak mau someday anak-anak berkata; Everything I've ever cared about, everything I've worked for, has all been preparation for a future that no longer exists-The Day After Tomorrow (2004).
kalau pertanyaan yang keempat no comment lah, mual bahasnya.
bagi yang mau belajar Home schooling bisa dimulai dari rumahinspirasi saya dulu juga belajar banyak dari situ, eh sampai sekarang masih.

Tetapi intinya, dengan berjalannya waktu saya bisa membedakan, mana yang tanya hanya buat basa-basi, yang tanya serius (datengin saya kerumah naik motor, jauuuh sekali padahal) dan yang tujuannya hanya mau menunjukkan betapa salahnya keputusan yang saya ambil.

Kami memutuskan Homeschooling tidak tiba-tiba, dalam semalam, dapet wangsit terus home school, kami melalui proses yang panjang, diskusi yang panjang, belajar dan belajar, bertanya, browsing dan masih terus hingga saat ini, jadi meskipun pertanyaan itu terus mengalir, yang bisa saya lakukan adalah, keep swimming, keep swimming ala dori bahwa no matter what they said ini adalah jalan terbaik untuk kami setidaknya saat ini.

belakangan ini beberapa pertanyaan ini kadang-kadang jadi pertanyaan/atau pernyataan lanjutan lumayan menganggu kadang-kadang buat saya:

  1. Pasti sabar banget yah, bisa ngajarin anak sendiri.
  2. wah, pinter banget yah ibunya bisaan ngajarin, atau
  3. yakin tuh anaknya diajarin sendiri ga kasian (yah, kesimpulannya berbanding terbalik dengan diatas)
Saya tau saya masih kurang sabar, kurang pintar, dan bertumpuk begitu banyak kekurangan yang lain, tapi saya mau berusaha, bukankah guru disekolah juga punya kekurangan, setidaknya saya Ibunya, saya akan berusaha yang terbaik karena mereka adalah anak-anak saya, kembali mengulang Quote diatas  Everything I've ever cared about, everything I've worked for, has all been preparation for a future that no longer exists, karena saya tidak tahu bagaimana mereka akan menjalani hidupnya di masa mendatang, bagaimana kondisinya, kadang bahkan saya bilang pada mereka bahwa mungkin kalian tidak berpijak dibumi lagi who knows, tapi dimanapun kalian berada, menjadi orang yang baik akan tetap menjadi hal yang penting, akhlak yang baik, adab yang baik, menjadi pribadi yang utama akan selalu dibutuhkan, apapun jamannya. Maka itulah yang saya utamakan, dan selalu terucap padaNya, Mudahkanlah Ya Alloh. aamiin



Buku, Games dan Televisi

Tiga kata yang belakangan ini sering membuat saya menahan nafas,

Yang Pertama Buku, untuk menanamkan kecintaan anak-anak pada buku, saya nyaris membeli semua jenis buku anak, belakangan tersotir yang kurang layak akhirnya masuk kardus, memenuhi garasi, dan menggeser penghuni asli garasinya ke teras, targetnya 1 hari satu buku, namun sejak bulan juni lalu saya full dirumah, kami membuat kebiasaan baru, Reading time bahasa saya dan syauqi, saya, syauqi, tsaqib akan bersama-sama membaca buku lalu kami bercerita tentang buku yang kami baca, Alhamdulillah saya sangat gembira atas minta baca syauqi yang besar, sampai.... saya menemukan kebiasaan saya ada di syauqi, tidak bisa berhenti kalau sudah membaca, bukunya diseret-seret kemana-mana, males makan, olah raga buru-buru, sampai akhirnya dengan berat hati saya mengambil keputusan:
  1. Memberikan contoh yang baik, bahwa saya juga tidak baca sembarangan (maksudnya disembarang tempat, dengan posisi sembarangan) saya suka baca sambil masak, hiks contoh yang buruk.
  2. Memberikan pengertian bahwa bahkan untuk hal baik (membaca contohnya), juga harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. 

Yang kedua adalah Games, yah dirumah kami memang games diijinkan namun ada batas waktunya, syauqi Alhamdulillah sudah sangat mengerti itu, berapa lama dia seharusnya bermain games, baik di Laptop, nintendi Wii, maupun menggunakan Ipad, Tsaqib masih sering rewel ketika waktunya bermain games dihentikan, hmm PR besar buat kami.

Nah, yang terkhir adalah Televisi, ini sebearnya salah saya, dahulu kami memang menerapkan NO TIVI, sukes memang karena kami konsisten, ketia kemudian, boleh pakai TV untuk nonton DVD, dan lain-lain disitulah mulai timbul masalahnya, ketika sudah menggunakan Televisi, maka kamipun melonggar untuk tidak apa menyalakan Chanel yang baik, kemudian saya sadar, Bahkan untuk Chanel anak-anak pun, begitu banyak muatan yang kurang layak untuk anak-anak, IKlan terutama!! bahkan untuk TV berlangganan yang mengaku tanpa Iklan! Let say kita sudah memilih acara yang sesuai,tiba-tiba nongol dengan ajaibnya iklan, seperti NEXT atau THIS Weeekend! Untuk acara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di rumah kami, Tahan Napas tentu saja, apalagi  kami tinggal di komplek dengan chanel Televisi gratisan yang sudah dipatok, ga bisa nambah, dari satu provider.

Pendampingan dari Orang Tua mutlak diperlukan, dalam hal televisi, karena eefek yang ditimbulkan begitu besar, mungkin memang perlu penelitian yang valid, namun menurut saya ada yang salah dengan konsentrasi syauqi ketika dia mulai menonton televisi, maka saya pun menghentikannya, seketika, tidak ada TV sama sekali, bahkan untuk bermain Wii.

Alhamdulillah membaik, selanjutnya saya beri pengertian tentang batasan-batasan, bahwa inti dari segala perbuatan itu adalah kita tahu, mana batas antara baik dan buruk, kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus, setelah saya rasa anak-anak cukup mengerti saya kembali mengijinkan menggunakan Televisi, namun dengan beberapa batasan, seperti waktu maksimal, dan adanya saya atau abinya yang mendampingi,  tentu saja sekali lagi Tsaqib (3Y) adalah PR besar buat saya, siang ini sebelum tidur siang dia kembali menangis ketika saya mematikan televisi, waktunya dia istirahat siang setelah bersama kakaknya memainkan Wii kurang lebih 45 menit, dahulu saya sering mengalah pada tangisnya, sekarang saya tau, menuruti kemauannya berarti saya tidak menyayanginya, sering kali saya mendiamkannya beberapa waktu, setelah dia relatif tenang saya baru menggendongnya, membawanya ke aktivitas yang lain, memang tidak mudah membangun kebiasaan yang baik, namun bila kita berusaha, dan terus bermunajat Pada-Nya insya Alloh Alloh akan selalu memudahkan. aamiin

First Time on theater

yup, finally First Time on theater, sebenernya udah liat iklan kalau Planes bakal tayang di Indonesia tanggal 6 September si mas udah heboh banget apalagi kebetulan kita sedang ada di jakarta yang nginepnya tinggal ngesok udah sampai XXI yang kereeen, tapi berhubung waktu tayangnya agak susah disesuaikan maka saya pun berkata, Insya Alloh nanti pulang kita nnton yah nak.

akhirnya 11 hari kemudia, malam selasa kemarin (hahahaha ketauan Nomat) kita nonton, ber-4, saya suami, syauqi (6Y) dan Tsaqib (3Y), sejak sebelum berangkat beberapa hari sebelumnya saya sudah mengajarkan "Tata krama" di bioskop, engga boleh berisik mengganggu orang lain, ga boleh bawa makanan (anak-anak ga suka pop corn) saya juga memberikan gambaran suasana di dalam bioskop. Sebelum berangkat kami makan malam terlebih dahulu, dan buang air kecil.

Sebelum berangkat, saya dan suami menyusun plan A plan B, apabila tiba-tiba adiknya minta keluar, atau menolak masuk, lalu disanalah kami, a cozy teather, cuma ada anak-anak kami dan 1 anak perempuan yang lebih besar dari syauqi selebihnya remaja "sigh" berharap tidak ada adegan yang aneh-aneh. Alhamdulillah ga ada.

Lalu kamipun ber empat disana, Alhamdulillah diluar dugaan, anak-anak sangat tenang, sangat bersemangat menyaksikan film yang diputar, berbicara sangat perlahan (berbisik) jika ada yang ditanyakan.
Untuk sebagian orang tidak ada yang istimewa dari "menonton bioskop" tapi bagi kami, dimana kami percaya belajar adalah dari setiap pengalaman perjalanan hidup, kami (saya terutama) sangat bangga anak-anak sudah mulai bisa menempatkan diri, bagaimana bersikap sesuai tempat.

Buat kami, menanamkan pengertian kepada anak-anak untuk tidak berteriak-teriak di tempat umum, saling mengerti dan memahami satu sama lain, belajar bahwa di dunia ini begitu banyak perbedaan dan menghargainya, itu adalah sangat penting untuk kami, setidaknya saat ini, pendidikan karakter, character building, kami menyebutnya adab, berusaha membentuk akhlak yang baik, itu saja, itu dulu, itu yang terpenting, setidaknya saat ini. Calistung?? ahh itu bisa kapan-kapan.

kembali ke film-nya, buat saya muatannya lumayan lah, meskipun mengusung tema yang kurang lebih sama dengan Cars, tapi gambarnya bagus, Moral Story-nya cukup baik. Over All kami cukup senang malam itu.

Wednesday, September 18, 2013

sunat, dan artinya buat saya

well, pengertian dan mengapa anak-anak kami perlu disunat baik secara agama maupun kesehatan tidak akan dibahas disini, karena itu ada dimana-mana.

ini tentang momment sunat untuk saya, sejak lama kami sudah merencanakan anak-anak untuk disunat apalagi tsaqib yang phimosis, namun dengan penolakan dan keaktivannya, kami kuatir bius lokal akan terlalu beresiko baik untuk proses sunatnya sendiri maupun trauma yang ditimbulkan.

karena insiden tsaqib kena roda sepeda hari sabtu 8 juni (maafkan umi nak) setelah periksa dan rontgen di RS terdekat yang sangat mengecewakan, kamipun mencari second opinion sekaligus karena mas syauqi beberapa kali mengeluh gatal, maka kamipun mempercepat prosesnya, kami pun membawa anak-anak ke seorang dokter bedah anak yang luar biasa baik dan informatif, Alhamdulillah.

senin, 10 juni 2013 kami bertemu dengan dokter bedah anak dari dia kami tau syauqi ternyata urgent untuk disunat dan karena waktu yang dibutuhkan lebih lama (jauuh lebih lama) dibanding sunat pada umunya maka biusnyapun harus total, keterangan selanjutnya hanya bergaung2 ditelinga saya, airmata sudah terlanjur membanjir, bayiku yang kecil harus dioperasi........ selanjutnya semua seperti dalam tombol fast forward cek darah rontgen.... keesokan paginya bernagi tugas saya dan suami untuk menjaga dan membawa anak-anak mengurus administrasi dan lain-lain, muali pasang infus, puasa sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi saya, nyaris saya terus menangis diluar ruangan, sampai menjelang syauqi masuk kamar operasi suami berkata "special kids only given to special mom, like you, be tough" semuanya serba mendadak, mami, ibu mertua kakak-kakak baru mendengar kabar pagi itu, suami mendampingi syauqi masuk ke ruang operasi melihat mental saya yang anjlok dokter melarang saya masuk, dan saya menunggu hampir dua setengah jam (2.5) di luar ruangan operasi, memegang Qur'an biru sambil terus menangis, tsaqib ada di kamar perawatan saya titipkan pada pengasuh sementara, beberapa orang yang saya tidak kenal menyapa, menguatkan duduk bersama, menjelang operasi berakhir barulah mami dan kakak hadir.saat ketika mendengar tangisannya bersamaan dengan dibukanya pintu kamar pemulihan saya bersujud... bersyukur saya masih diberi kesempatan mendengar suaranya....

masa peralihan antara sadar dan tidak sungguh menghancurkan hati saya beberapa saat kemudian syauqi tertidur, ketika terbangun sudah mulai berkomunikasi dengan baik, Subhanalloh....
malamnya saya bersujud... 6 tahun 5 bulan usianya, ini kali pertamanya saya diuji melihatnya kesakitan, bertahun-tahun saya menikmati hari-hari indah bersamanya, kadang saya lupa bersyukur, atas kesahatan selama ini, atas waktu yang berlimpah, suatu titik balik bagi saya, makin bulat niat dihati saya, inilah saatnya untuk saya menghabiskan hari hari bersama mereka, suami dan ank-anak.

keesokan harinya syauqi sudah sangat membaik, karena itulah kami memberanikan diri, esoknya, kamis 13 juni 2013 tsaqib melalui proses yang sama, tanpa adanya "tambahan prosedur" maka prosesnyapun kurang lebih hanya 30 menit sudah termasuk persiapan, saya mendampingi sampai dengan tsaqib dibius menyaksikan prosesnya abinya saja saya menanti diluar, tentu saja doa terus mengalir namun secara mental saya lebih siap termasuk menghadapi proses sadarnya, namun karena bius yang digunakan adalah TIFA maka sesaat bius dilepas anak-anak langsung tersadar, karena proses sunatnya lebih sebentar maka proses sadarnyapun lebih cepat.

meskipun harus berkutat dengan tsaqib yang tidak mau sama sekali disetuh obat obatan termasuk betadine, saya tetap berbahagia, telah menjalni proses ini bersama mereka, suatu proses pendewasaan untuk saya, IKHLAS ternyata saya masih harus belajar banyak.

maaf

Dan malam ini saya terbangun, seperti malam-malam yang lain saya kembali meneteskan air mata, untuk banyak kesalahan yang telah saya buat hari ini, untuk belum bisa cukup bersabar, untuk belum menjadi ibu yang baik, untuk belum menjadi istri yang baik.
menyesal.... merasa bersalah, dan berharap agar hari ini lebih baik dari kemarin, berharap agar saya lebih sabar, lebih baik, semoga Alloh selalu memudahkan. aamiin

abi, syauqi, tsaqib maafkan umi

Dan semua pun beradaptasi



Muali pertengahan juni saya mulai menjalankan 24/7 shift alias tidak lagi punya kewajiban sebagai ibu bekerja, maaf tapi posting kali ini bukan membahas tentang ibu bekerja VS ibu rumah tangga.
Ini adalah tentang adaptasi, adaptasi saya, adaptasi anak-anak, mungkin adaptasi suami juga meskipun  tidak terlalu terlihat, piss mbi 

Meskipun sebelumnya anak-anak sempat ikut saya ke kantor setiap hari selama beberapa jam, dengan kata lain tetap nyaris seharian tetap bersama saya, tentu saja suasananya sangat berbeda, karena tetap ada ritme yang berbeda, ketergesa-gesaan dan tight schedule, jam sekian harus siap, jam sekian sudah harus ikut saya, dan lain-lain.

Semula impian saya adalah ketika saya dirumah adalah semuanya indah, semua bisa bersama-sama, dan segala impian indah lainnya, ternyata tentu saja realitanya tidak semudah itu, meskipun bekerja dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah dan bisa membawa anak ke kantor, anak-anak sepertinya dibawah sadar mereka tahu bahwa mereka harus mandiri, karena saya “masih” punya tanggung jawab yang lain, ini membuat mereka cenderung lebih cekatan, dan mandiri, karena mereka ikut terlibat hampir dalam semua kegiatan saya, misalnya ketika hari tertentu saya harus menitipkan mereka di daycare, mereka harus siap lebih pagi, karena perjalanan yang tidak dekat, demikian juga ketika hari les, atau berkunjung ke rumah teman.

Ketika saya berada dirumah hari-hari pertama yang saya rasakan adalah, anak-anak jadi jauuh lebih manja, bangun lebih siang, dan ber santai-santai dalam banyak hal, dan mereka yang terbiasa mengurus kepentingannya sendiri seperti
Meletakkan baju kotor
Menyiapkan meja makan, dan membereskan sesudah makan
Membereskan sendiri mainannya
Tiba-tiba menjadi kurang disiplin. Sayapun mencoba mengevaluasi apa yang salah, kemudian saya mencoba menarik kesimpulan

Umumnya ketika mengerjakan sesuatu kami dikejar agenda berikutnya, misal, umi siapin makan, kalian beresin meja, habis makan cepat beres-beres, mas dan adik ikut umi ke kantor, atau ke daycare. Waktu yang terbatas, itu yang selama ini kami hadapi, ketika saya ada selalu ada di sekitar mereka maka waktu jadi tidak terbatas lagi.

Yang semula sudah tidur  terpisah mendadak minta ditemani setiap malam, atau tiba-tiba pindah ke kamar kami ditengah malam.

Ketika saya mencoba melakukan evaluasi maka kesimpulannya adalah “saya” penyebabnya, me and my guilty feeling, bisa selalu berada bersama anak-anak membuat saya “over excited” dan  kurang konsisten , dan inilah saatnya kami semua beradaptasi, saya tentunya untuk bisa lebih konsisten, berlatih untuk berkata “tidak” sesekali kepada anak-anak, selanjutnya tentu syauqi dan tsaqib, bahwa saya selalu ada dirumah bukan berarti bermanja-manja setiap saat.

Dan hari ini lebih dari tiga bulan saya dirumah, Alhamdulillah kondisinya sudah sangat membaik, syauqi bahkan sudah mulai membantu adiknya berganti pakaian, meskipun tentu saja pasang-surut tetap saja terjadi, tapi saya selalu berusaha menikmatinya, bersyukur setiap saat, Alhamdulillah, karena saya bangga atas keputusan yang telah saya ambil, dan kini waktunya menjalaninya, dengan bahagia, bersama-sama, Insya alloh. Semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin.

Saturday, September 14, 2013

Mudik, dan ternyata memang belajar itu dimana saja


11 hari berlibur dengan rute cirebon-purwokerto-banjarnegara-purwokerto-cirebon, bertemu dengan bagitu banyak sanak saudara terasa begitu berwarna, Ada yang berbeda dengan lebaran tahun ini, syauqi yang sudah 6 tahun sudah jauh lebih mandiri dibanding tahun-tahun sebelumnya, sudah bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, menjaga adiknya, berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lebih baik (ehem!! Meskipun ada insiden “instruction”).
Di purwokerto meskipun diawali dengan tsaqib yang merusakkan alat komunikasi milik mbah, “maaf yah mbah” semua terasa jauh lebih lancar dibanding tahun-tahun yang lalu, cucu-cucu mbah di purwokerto memang mempunyai range usia yang lumayan dari 16 thn s/d baru lahir, disini saya sangat bersyukur melihat kemampuan berkomunikasi syauqi dan tsaqib, tidak ada kesulitan yang berarti untuk berkomunikasi dengan sepupu-sepupunya, bermain bersama, berbagi, meskipun akhirnya lebih banyak bergerumbul dengan yang selisih usianya tidak terlalu jauh, tapi saya sangat merasakan perbedaan dibanding tahun-tahun yang lalu, sekarang syauqi lebih percaya diri, untuk mengemukakan keinginannya, baik kepada kami, orang tuanya, kakek-neneknya maupun ke saudar-saudara yang lebih tua meskipun jadi PR besar buat kami, karena ternyata kami punya standar kesopanan yang sedikit “berbeda” ada banyak hal yang saya beri point khusus untuk mudik kali ini:
  • Alhamdulillah tidak rewel dijalanan, syauqi mulai bisa memperhatikan jalanan, menghapalkan tempat, dan menghibur adiknya, meskipun perjalanan pulang sangat macet dan bekal di mobil menipis. Syauqi dan Tsaqib tetap menikmati perjalanannya.
  • Saya sangat bangga ketika syauqi dengan bisa berkomunikasi dengan baik dengan para remaja (yup teenagers) tidak takut untuk mengeluarkan pendapatnya, berkata “tidak” bila tidak setuju, tapi tetap menghargai pilihan orang lain, salah satunya adalah berebut televisi, hmm klasik sekali yah, saya bangga dia bisa berkata, “aku ga mau nonton itu, itu ga baik” namun memlih untuk menyingkir ketika yang lain tetap mau menonton, dan juga untuk banyak hal lain.
  • Mulai bertanggung jawab pada barang-barang miliknya, sudah mulai bisa mengingat barang-barangnya dan menyimpan dengan baik supaya tidak tertinggal, meskipun tetap ada insiden kecil “ketinggalan” namun saya sudah sangat bersyukur untuk kemajuannya ini, Alhamdulillah.
  • Bertanggung jawab atas adiknya, Alhamdulillah ini saya sungguh berbangga hati, meskipun dengan caranya sendiri syauqi mulai bertanggung jawab pada adiknya, sepertinya ini dimulai ketika kami mengajak mereka ke masjid dan saya atau abinya bilang syauqi jaga adiknya yah, umi dan abi sholat. Beberapa kali saya titipkantsaqib padda syauqi, meskipun dengan menjerit-jerit dia akan memberi tahu ketika dia merasa adiknya sudah diambang “bahaya” misalnya mau menyebrang jalan, bermain pisau atau menarik-narik kabel listrik
  • Membaur dengan baik, dengan siapa saja, dimana saja, ini yang saya sangat bersyukur Alhamdulillah, terbiasa untuk bergau dengan siapa saja tidak dibatasi usia membuat syauqi dan tsaqib terbiasa untuk berada di banyak lingkungan, tidak harus melulu diantara anak-anak.
  • Oyah management amplop alias angpao juga sudah bisa diterapkan buat syauqi, bangga sekali ketika dia menyebutkan angka yang lumayan besar untuk pos “Donate” sedekah kata syauqi, Subhanalloh, umi dan abi bangga sekali padamu nak.

Tentunya mudik juga berarti, makan-makan dan makan-makan bebas masak (ehem) karena dikelilingi koki-koki handal, silaturahim ke banyak tempat banyak keluarga dan....... syauqi dapat angpao. Banyak yang mungkin tak terangkum disini, tapi semakin lama semakin merasa bahwa belajar itu selamanya, dimana saja, kalau kita mau menyadarinya.

Wednesday, August 21, 2013

tersaruk, terjungkal.....

sekitar jam 3 dinihari pagi tadi saya duduk dilantai sementara suami ada di sofa seperti biasa didepan laptopnya, saya sentuh tangannya;

  • mbi, maafkan yah....
  • menengok kearah saya yang bersimpuh di lantai 
  • i'm not smart.....
  • kenapa, tanyanya
  • mi, ga bisa jawab pertanyaanya syauqi
  • Alhamdulillah, dia pintar dan kritis, bukan berarti kamu gak pintar, tentu saja ditambah komentar praktis khas suami "catat ajah, pakai buku tar kita bahas bareng-bareng"
  • ayang ney, pas dibahas anaknya udah ga minat, saya ngeloyor pergi 

tersaruk-saruk... jujur, yah itu yang saya rasakan dalam menjalani HE dirumah kami, catat "saya" bukan anak-anak, betapa pertanyaan anak-anak bisa membuat saya terlongo-longo, seperti ketika syauqi bertanya kenapa ada pohon yang berduri, saya bangun malam-malam untuk meluangkan waktu mencari tahu, dan ketika keesokan paginya saya ajak membahas dia sudah tidak terlalu tertarik, ketika dia mulai minta belajar bahasa mandarin saya mesti kelimpungan buka buku kursus saya yang sudah lama berdebu tak pernah saya buka lagi, lalu mencari tempat kursus bersama, ketika saya kira dia sudah tidak berminat, ternyata dia "menagih" kapan kita mulai les bahasa mandarin mi? bagaimana saya berusaha untuk membuat blog yang baik, demi mendokumentasikan HE dirumah kami. Dihiasi dengan malam-malam yang kurang tidur untuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan syauqi yang tak mampu saya jawab, Malam-malam yang saya habiskan dengan membaca blog teman-teman yang lebih dulu menjalan kan HS/HE (seringnya makin merasa bersalah dan kecil), website yang direkomendasikan, membaca buku-buku, untuk mencari tau jawaban pertanyaan-pertanyaan syauqi yang tak terjawab di siang hari, kalang kabut mengerjakan pekerjaan rumah, sampai mengirim setrikaan ke laundry. 

Terjungkal-jungkal yah itu yang saya rasakan, ternyata mengatur waktu tak seindah yang saya bayangkan, pekerjaan rumah, kegiatan lingkungan, membereskan beberapa urusan (ehem) kantor yang tercecer. ternyata 24 jam dirumah pun terasa tak cukup, merasa bersalah karena terlalu banyak tidur, padahal cucian piring menumpuk. 

yah bahkan setelah 3 bulan berada dirumah saya masih merasa tersaruk-saruk dan terjungkal-jungkal.

tentu saja tidak berarti saya tidak bahagia.... Alhamdulillah saya sangat menikmatinya, hingga betapa 24 jam terasa sangat kurang.......

Makin lama terjun menjadi pelaku HS/HE saya makin sadar betapa kurangnya pengetahuan saya selama ini, jadi berpikir apa yang saya pelajari selama ini, merasa betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk mempedulikan hal-hal yang tidak essential dan melupakan hal-hal yang sesungguhnya "penting" Insya Alloh belum terlambat untuk belajar, meskipun jatuh bangun, tersaruk-saruk dan terjungkal, Umi akan terus berjalan nak, untuk belajar bersama kalian.

Wednesday, August 14, 2013

School of Life

Yup, School of Life

Buat saya itulah arti Home education buat saya, dimana kita belajar dari dan untuk hidup, karena hidup tidak melulu ujian, dan menghasilkan peringkat serta nilai sebagai hasil akhirnya

Dirumah, kita tidak melakukan ujian mencuci piring, memberi nilai untuk keahlian menanam dan ada peringkat untuk yang mencuci dan menyetrika terbaik, kenyataanya sering saya menyaksikan sedih sekali pekerjaan ini sering kali dilupakan, seakan baju bersih tersedia dengan sendirinya, masakan yang bergizi bisa dengan tiba-tiba ada di meja, rumah bisa rapi hanya dengan ditinggal tidur siang.

Padahal dari kehidupan lah kita belajar, kita belajar kesabaran dari celoteh dan polah laku anak-anak kita, ketika hari telah larut, lelah melanda dan mereka masih asyik dengan berbagai aktivitas yang menyisakan tumpukan mainan, pakaian kotor, dan sederet pekerjaan rumah yang lain, buat kami inilah salah satu pelajaran sabar yang telah semesta sediakan untuk kita.

Time management? jangan tanya lagi tentu saja, bagaimana bisa mengurus Rumah, memastikan ada makanan berkualitas di meja makan, pakaian yang bersih setiap saat, dan tetap menjalankan fungsi utama sebagai pelaku/penanggung jawab pendidikan anak-anak, belum lagi jadwal ke dokter (dokter gigi, vaksinasi, Med check up) Bergabung dengan klub? les? play date dengan sahabat anak-anak? saya kira hanya seseorang dengan time management yang baik yang bisa memastikan semua itu berjalan dengan baik dan sesuai jadwal. and everybody happy.

Science? Math? pernahkah kita berpikir ada berapa proses kimia yang terjadi ketika kita membuat tape ketan? berapa komposisi yang baik antara pakaian dengan sabun cuci, berapa liter air yang dibutuhkan, pernahkah kita memikirkannya.

Auditor,or accounting manager? well pernahkah kita menghitung berapa rasio antara pendapatan dengan kredit, produk investasi? investasi apa saja yang kita pilih? bagaimana kemanannya? evaluasi pengeluaran bulanan apakah sudah sesuai postingnya? butuh kemampuan yang handal jika kita mau memikirkannya.
Seorang perencana yang baik tentu akan mempertimbangkan dengan baik, dimana akan menginvestasikan dana pensiun, asuransi setelah pensiun, kemana rencana pendidikan anak-anak berapa biaya di masa depan dan berapa yang harus mulai kita persiapkan sekarang.

Tentu saja, kursus-kursus, sekolah-sekolah mempunyai metode yang baik untuk mengajarkan siswanya ilmu sesuai bidang yang diajarkan, banyak orang yang berhasil dengan pola ini, well saya adalah produk sekolahan, berhasil atau tidak sepertinya terlalu subyektif jika saya yang menilai.

Namun sementara ini, kami memilih jalan ini, bahwa Alloh menyediakan kurikulum terbaiknya, kapan semestinya anak-anak belajar adab? rutin melaksanakan sholat? adab sendiri begitu beragam, adab mandi, adab bertetangga, dan dalam segala aspek kehidupan, sudahkah kita mempelajarinya dan mengajarkannya kepada anak-anak kita?
Dan kembali ke awal bahwa saya yakin hidup sendiri sudah sekolah terbaik untuk kita, pilihan kita saja untuk mau membuka mata terbuka betapa luas ilmu Alloh tersedia atau tetap terkotak-kotak bagaimana cara "belajar" dan melupakan rutinitas sehari hari sebagai wahana belajar yang begitu agung.

Pertanyaan/Pernyataan yang hampir "Dilarang" ditanyakan ketika reuni atau kumpul keluarga


  1. Kapan nikah?
  2. Kok belum nikah juga? udah lama khan pacaran?
  3. Mau milih yang kaya apa lagi sey?? ganti ganti pacar mulu
  4. Tante/bulik/Budhe ada kenalan anaknya ganteng/cantik lo mau ga dikenalin?
Biasanya yang ditanya bakal jawab dengan variasi mulai dari senyum manis sampai yang pasang tampang mau jedotin kepala ke tebing.
Oke itu masalah pasangan hidup, selanjutnya menurut saya lebih tidak sensitif
  1. Kok belum punya momongan? sengaja tunda? Udah di Cek salahnya dimana?
  2. Udah coba ke dokter anu yang di anu katanya bagus lho?
  3. udah coba bayi tabung? di sana tuh klinik anu "emang sey "agak" mahal
  4. Mendadak begitu banyak saudara yg tau "orang pintar" yang punya resep Tokcer bikin cepet hamil.
Buat saya pertanyaan diatas sungguh sangat tidak sensitif dan tidak manusiawi, apalagi dibahas didepan umum, aduuuhhh ga etis sekali.

Well sebenernya buat para obyek (korban) pertanyaan-pertanyaan itu tentunya sudah menggelendoti mata mereka tiap hari (gajah di pelupuk mata) tak perlu lagi disuarakan dengan lantang, pastinya tak lelah sudah untaian Doa dialunkan.....

Alhamdulillah, berada di usia yang "wajar" menikah dan punya 2 orang anak tentu saja menghindarkan saya dari pertanyaan standar diatas.... selanjutnya adalah pertanyaan/pernyataan standar yang lain:

Masalah Fisik:
  1. Gemukan nih? diet donk tar bosen lo suami/istri nya
  2. kok kurusan pakai $%$&& yah atau ke klinik mana?
  3. eh putihan pake pemutih yah? ati2 lho ke dokter abal-abal
  4. eh kok lain banget ya, perasaan dulu laaaiiinnn faktor "U" yah.....
Masalah Tentengan
  1. Eh mobil baru yah? ooohh bukan? kirain kamu dah bisa beli mobil gitu
  2. ehh tas nya keren? Asli ga tuh? KW mangga dua yah?
  3. Kerja dimana? gajinya kurang oke yah?
  4. Eh rumah masih kontrak? coba kredit sendiri donk
Masalah anak-anak
  1. Anakmu kok kurus, susunya ganti tuh kurang bergizi
  2. ihhh gendut banget obesitas lho
  3. Maen gadget terus sey, kapan mainnya, 
  4. dduuuhh ga bisa diem yah lari-lari terus, bawa ke dokter tuh siapa tau ADHD
  5. Belum bisa baca?? berhitung?? umur segituuu 
Percayalah, pertanyaan pertanyaan diatas hanya memberikan memory yang mengerikan untuk sebuah "reuni" atau pertemuan Keluarga

Saya ga ngerti kenapa kebanyakan percakapan diawalai dengan pertanyaan yang serba "wow" seperti itu, saya kira lebih banyak kalimat "ice breaking" yang lebih manusiawi seperti:
  • Apa Kabar? Sehat? sekarang tinggal di kota mana? kotanya enak ga?
  • Habis ini mau kemana jalan2 yuk? cari jajanan di pak itu tuh, dulu enak banget khan yah?
Atau pertanyaan yang berbau masa lalu:
  • Pak Anu masih ngajar ga yah?
  • Atau kenangan masa kecil di acara keluarga, kayak kecemplung kolam ikan atau ngabisin rambutan dikebon sampai mules-mules
  • Atau ga bisa bedain antara mancing dan menjala, ngambil seperlunya, sama abisin ajah semua....
Masih begitu banyak khan ide-ide yang lain, well Pertemuan keluarga saya gak gitu kok *act innocent anggota Trah Bani Aburrahman itu baik-baik buktinya pas ditawarin pertemuannya dibikin 2 tahun sekali gak pada mau, brarti kangen terus khan.



Friday, August 2, 2013

Yes we are a home school family

Then, There is time when you are realize that you are a homeschooler and this is absolutely one of them.

Yup tentu saja homeschooling di rumah kami sudah berjalan jauuuh sebelum ini, namun kadang butuh tamparan keras untuk mengingatkan kita, bahwa ya, saya seorang pelaku home education.
Meskipun bergabung di group para pelaku home education, yang pastinya sudah kenyang menghadapi yang seperti ini, tentu saja tamparan keras hanya akan berasa bila kita mengalaminya sendiri.
Tahun ini dari segi usia, waktunya mas syauqi masuk SD, tentu saja akan jadi tanda Tanya besar kenapa mas syauqi masih berada di rumah setiap hari.

And this is it, the kinda “hardship” began…… halah lebay bgt ga sey saya

Demi keamanan dan kenyamanan hidup maka peristiwa, tempat dan pelaku akan disamarkan hehehehehe tambah lebay. “siap ditimpuk pisang” long story short saya berada dalam sebuah forum dimana saya ditanya dan tidak dalam posisi untuk menjawab “semaunya”

Me, dan penanya (pe)

  • Anaknya Homechool
  • iyah
  • kenapa?
  • “senyam-senyum” pengen yang terbaik ajah bu (ingat itu adalah “forum” artinya ketika saya   jawab semua orang memperhatikan)
  • Kurikulumnya dr mana? Berkualitas ga? Kasian lo anaknya? HS dimana? Siapa yang ngajarin
  • mmmmmmm saya (jawab seperlunya masalah kurikulum)
  • (ini dia yang paling menyakitkan) harus dipikirkan dan dipertimbangkan, anaknya belajar apa, kalau kita mampu sey ga papa tai kalo kita sekedar menganggap diri kita mampu kasihan anaknya
  • eerrrrrrr mesam mesem, Insya Alloh bu, kalau yg ga mampu saya minta yang lebih mampu dan professional (abinya tentu saja)
  • Sebenernya apa sey alasannya? Kasian anaknya sosialisasinya gimana? Hidup bukan Cuma di rumah.
  • (mulai BeTe) justru bu, dengn HS anak saya bisa punya banyak teman, bisa banyak main, bisa banyak jalan-jalan ga Cuma dengan anak-anak yang sebaya (pssst ini jawaban terpanjang sepertinya dan saya langsung menyesalinya)
  • Lha itu, malah jalan-jalan, kita lg ngomongin sekolah!! (hadeeehhh) ini ga main-main lo masalah masa depan anak-anak, nanti mo HS terus ngga khan ntar SMP/SMA khan udah ga mampu tuh ngajari (deep sigh) gimana nanti anaknya? Apa gak shock sama suasana sekolahan?
  • Insya Alloh disiapkan (udah insyaf ga mau jawab panjang-panjang)
  • Memang saya tau kalau disekolah ga semua yang diajarkan baik, tapi itu justru gunanya, supaya anak belajar kehidupan bahwa hidup itu ga semua baik belajar adaptasi bagaimana menghadapi anak-anak yang nakal atau guru yang galak (kurang lebih maksudnya begitu)
  • Insya Alloh bu, saya siapkan untuk jadi yang terbaik.         

           Well,  maaf ibu tapi anak saya terlalu berharga untuk dikirim kesekolah hanya untuk di bully oleh teman dan gurunya,jika itu yang ibu maksud dengan adaptasi “sigh” saying saya ga berani jawab gitu, yes Coward me!

Forumnya dimulai, Alhamdulillah……..

Dari percakapan ini saya belajar sesuatu yang sangat berharga:

  1. Ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab, biarkan saja meskipun orang menganggap kita “tdk normal” karena banyak pertanyaan bukan bertujuan “bertanya” hanya bertujuan untuk menunjukkan bahwa jalan yang kita pilih adalah “salah”
  2. Akan ada banyak orang yang berpikir kita kurang kompeten untuk menjadi pelaku HS, menyakitkan memang tapi biarkan saja, jadikan “sabetan” pedes untuk membuat kita lebih banyak belajar.
  3. Banyak sekali orang yang men salah artikan istilah HS (thanks to them who sell education) tapiii sebenernya juga ga kepengen tau yang bener just don’t waste your time on them.
  4. Seperti kata para senior, bahwa apapun yang kamu katakan tidak akan merubah pendirian saya tentang pemilihan metode pendidikan untuk keluarga saya, Vice Versa maka tidak perlu menjelaskan HS pada mereka karena mereka juga tidak akan merubah pendiriannya.
  5. School is not for everyone, so does Home school.


Well, saya adalah seorang pelaku Home education, karena kami merasa itu yang terbaik untuk keluarga kami, setidaknya saat ini, besok, nanti apakah akan berubah, Wallohu A’lam, karena tentu saja saya tidak tau apa yang akan terjadi didepan.

Apabila banyak keluarga lain lebih memilih sekolah saya yakin karena itu adalah yang terbaik bagi keluarga mereka.

Wednesday, July 31, 2013

Today is the day



Yup, today is the day i submit my kinda "stay at home" letter, still have to complete my working for several days, but I feel so..... strangely happy.

Alhamdulillah  finally berani juga ambil keputusan ini.
Untuk semua yang peduli, maafkan bukan kami tak mendengarkan bukan kami tak menghormati saran kalian, namun kami tak mengambil keputusan ini tiba-tiba, tentu saja melalui pertimbangan yang sangat panjang, doa-doa yang terus terlantun dari bibir dan hati kami, semoga keputusan ini adalah yang terbaik, untuk semua.
Tentu saja memuaskan keinginan semua orang adalah diluar  kemampuan kami, tapi sungguh ini adalah yang kami rasa  yang tebaik, berawal dari niat baik, Insya  Alloh rencana terbaik telah disiapkan sang Maha Pembuat Rencana, karena kami yakin hasil Terbaik pulalah yang akan menunggu kami. Aamiin
Maafkan bila  kami mengecewakan mu, sungguh maafkan. Semoga doa-doa mu akan melengkapi perjalanan panjang ini.

Mommy, ibu, bapak.
We Love U Always