Sejauh ini, Cuma buat nonton?
Ditambah tatapan takjub menyaksikan saya
yang menggendong anak dengan carrier di depan, ransel (gede) di belakang, dan dua anak yang berjalan
disisi saya, lengkap dengan bawaan dan botol minum masing-masing, dan berjalan
kaki berkilo-kilo (halah lebaayyy..... yaa lebih dari sekilo lah dan tengah
hari bo!) kala saya membawa anak-anak menonton final pertandingan dayung PON
2016.
Kalimat seperti itu dan
yang sejenisnya sering kami dapatkan, plus selama beberapa waktu ini, saya
sedikit over whelmed dengan pertanyaan, kok pergi-pergi terus sih? Enak banget
jalan-jalan terus, kasihan lho anak-anak ga ada istirahatnya (jadi seneng apa
kasihan sebenernya sih??) duitnya ga abis-abis ya (aamin :D ) dll, dst, dkk.
So let me tel you a
story, why we love this travelschooling process
Kalau anda mengira
perjalanan kami selalu lancar jaya tanpa hambatan, semua mudah tentu saja anda
salah besar! Lha wong jalan tol aja udahlah bayar mahal, banyak bolong juga
suka macet, mana kalau... eh kok jadi curcol
Kami pernah baru sampai
di suatu negara, tas dicopet, paspor, duit dompet berisi atm credit card dll
ILANG! Termasuk amplop isi duit dengan mata uang lokal dapat nuker di cangkol
(penting ya mak? Cangkol di sebut?) Ilang kabeh, Di negara orang!
Kami pernah dibawa gmap
ke tengah hutan, literally, jalanannya batu,kanak kiri pohon atau jurang, embuh
udah ga berani tengok tengok, dzikir aja lah :D nyaris ga ada manusia lain
selain kami dan mobil kami yang jelas-jelas bukan diproduksi untuk off road!
Dan itu malam-malam....
Pernah mau isi bensin,
bensin diisi saya ambil ATM, ternyata atm rusak, semacam gangguan sinyal, semua
ATM di areaitu tidak bisa digunakan! Yup dan bensin udah diisi, duit buat bayar
engga ada sodara sodara!
Persis kaya diatas tapi
obyeknya makanan, udah pesen makan, atm ga bisa ambil duit, duit ga ada, piye
jal?
Belum lagi kesasar, beuh ga keitung, ama salah jalan, baruuu aja saya
salah masuk jalur verboden, gimana atuhlah kagak ada tandanya, masa pakai ilmu “penerawangan”
Dan masih banyak lagi....
Kali lain saja ya
ceritanya (beuhh GR emang ada yang baca?) bisa jadi beberapa bab novel itu sih.
Cerita satu babak dulu aja ya. Dimulai dari perjalanan kami dua pekan ini.
Yang jelas, dari semua
kejadian itu, saya-kami makin yakin bahwa Alloh dekat, gusti Alloh mboten sare,
bahwa segala ujian sudah diukur takarannya. Disaat kami sudah tidak tahu mesti
bagaimana, dan yang tersisa hanya doa, Alloh bukakan pintu-pintu keajaiban-Nya.
Dan saya bersyukur kami melaluinya bersama. Belajar bersama
Jadi mana cerita
banjirnya?
Begini ceritanya... usai
menyaksikan seri selam kolam dan latihan badminton PON 2016 di Cirebon (iya yang saya
disuruh potoin atlit yang saya baru tau belakangan ituu...) kami meluncur untuk
menyaksikan pertandingan dayung di purwakarta-karawang.
Selanjutnya jadi
supporter panahan jawa barat, diselingi nonton softball (disana kami bertemu
dengan pelatih indonesia yang membawa indonesia meraih emas di sea games, ini
juga lain kali aja ceritanya hihihi)
Sabtu siang, Sepulang dari
stadion Si Jalak Harupat kab. Bandung tempat diadakannya panahan (dan beberapa Cabor lain)
diperjalanan hujan deras, oya dikarenakan beberapa alasan kami ke venue naik
Grab Car, dalam perjalanan tiba-tiba kami dihadang genangan cukup tinggi, nekat
menerobos, kami malah terjebak di arus air (iya airnya mengalir tak lagi menggenang),
Alhamdulillah pengemudi grabnya sigap, kami langsung dibelokkan ke semacam
parkiran di kiri jalan, selanjutnya kami baru tau bahwa itu bagian samping dari
sebuah pabrik/Gudang dan halaman rumah orang.
Ketika turun dari tempat
parkir saya sempat kaget sekali, air sudah dibawah lutut! Duh bersyukur kami
diijinkan masuk ke bagian teras/depan gudang, kedinginan, banjir dan di daerah
yang kami tak tahu, dan semakin kumplit ketika saya merasa bahwa saya haid!
Si bungsu tidur di
pangkuan saya, si sulung dan tengah adem ayem aja masih mengobrol di mobil,
padahal emak bapaknya udah panik (emaknyaaa kalee) dan kami belum makan siang! Saya
lihat sudah pukul 2 (dua)
Apa yang terjadi
selanjutnya? Ibu yang tinggal di sebelah kami memarkir mobil, mempersilahkan
kami singgah, shortly kami ditampung selama kebanjiran, diberi makan,
disediakan pembalut. Masyaa Alloh.
Ya, ini adalah salah satu
dari sekian banyak hal yang kami sukai dari travelling, kami bertemu dengan
orang-orang biasa yang Luar biasa. Ada ibu lain yang mampir dan membiarkan
anaknya bermain dengan anak-anak kami. Ada yang meminjami anak-anak mainan. Menunggu
banjir surut bukanlah waktu yang singkat, apalagi dalam kondisi kedinginan dan
lapar. Alhamdulillah Alloh mengirimkan mereka orang-orang yang baik itu.
Dan yang paling
mengagumkan tentu sang pengemudi grabcar yang memilih untuk tidak meninggalkan
kami, ketika banjir surut, dia tetap mengantarkan kami. Terima kasih pak!
Terima kasih semua yang
telah hadir dalam perjalanan kami, untuk mengajarkan banyak hal bagi kami dan
anak-anak..... Alhamdulillah.
Jadi, mau ikut travelling bersama kami?
Jadi, mau ikut travelling bersama kami?



