Pages

Wednesday, September 28, 2016

Sebuah cerita tentang “banjir”




Sejauh ini, Cuma buat nonton?

Ditambah tatapan takjub menyaksikan saya yang menggendong anak dengan carrier di depan, ransel (gede) di belakang, dan dua anak yang berjalan disisi saya, lengkap dengan bawaan dan botol minum masing-masing, dan berjalan kaki berkilo-kilo (halah lebaayyy..... yaa lebih dari sekilo lah dan tengah hari bo!) kala saya membawa anak-anak menonton final pertandingan dayung PON 2016.

Kalimat seperti itu dan yang sejenisnya sering kami dapatkan, plus selama beberapa waktu ini, saya sedikit over whelmed dengan pertanyaan, kok pergi-pergi terus sih? Enak banget jalan-jalan terus, kasihan lho anak-anak ga ada istirahatnya (jadi seneng apa kasihan sebenernya sih??) duitnya ga abis-abis ya (aamin :D ) dll, dst, dkk. 

So let me tel you a story, why we love this travelschooling process 

Kalau anda mengira perjalanan kami selalu lancar jaya tanpa hambatan, semua mudah tentu saja anda salah besar! Lha wong jalan tol aja udahlah bayar mahal, banyak bolong juga suka macet, mana kalau... eh kok jadi curcol

Kami pernah baru sampai di suatu negara, tas dicopet, paspor, duit dompet berisi atm credit card dll ILANG! Termasuk amplop isi duit dengan mata uang lokal dapat nuker di cangkol (penting ya mak? Cangkol di sebut?) Ilang kabeh,  Di negara orang!

Kami pernah dibawa gmap ke tengah hutan, literally, jalanannya batu,kanak kiri pohon atau jurang, embuh udah ga berani tengok tengok, dzikir aja lah :D nyaris ga ada manusia lain selain kami dan mobil kami yang jelas-jelas bukan diproduksi untuk off road! Dan itu malam-malam....

Pernah mau isi bensin, bensin diisi saya ambil ATM, ternyata atm rusak, semacam gangguan sinyal, semua ATM di areaitu tidak bisa digunakan! Yup dan bensin udah diisi, duit buat bayar engga ada sodara sodara!

Persis kaya diatas tapi obyeknya makanan, udah pesen makan, atm ga bisa ambil duit, duit ga ada, piye jal? 
Belum lagi kesasar, beuh ga keitung, ama salah jalan, baruuu aja saya salah masuk jalur verboden, gimana atuhlah kagak ada tandanya, masa pakai ilmu “penerawangan”
Dan masih banyak lagi....

Kali lain saja ya ceritanya (beuhh GR emang ada yang baca?) bisa jadi beberapa bab novel itu sih. Cerita satu babak dulu aja ya. Dimulai dari perjalanan kami dua pekan ini.
Yang jelas, dari semua kejadian itu, saya-kami makin yakin bahwa Alloh dekat, gusti Alloh mboten sare, bahwa segala ujian sudah diukur takarannya. Disaat kami sudah tidak tahu mesti bagaimana, dan yang tersisa hanya doa, Alloh bukakan pintu-pintu keajaiban-Nya. Dan saya bersyukur kami melaluinya bersama. Belajar bersama

Jadi mana cerita banjirnya?

Begini ceritanya... usai menyaksikan seri selam kolam dan latihan badminton PON 2016 di Cirebon (iya yang saya disuruh potoin atlit yang saya baru tau belakangan ituu...) kami meluncur untuk menyaksikan pertandingan dayung di purwakarta-karawang.

Selanjutnya jadi supporter panahan jawa barat, diselingi nonton softball (disana kami bertemu dengan pelatih indonesia yang membawa indonesia meraih emas di sea games, ini juga lain kali aja ceritanya hihihi) 

Sabtu siang, Sepulang dari stadion Si Jalak Harupat kab. Bandung tempat diadakannya panahan (dan beberapa Cabor lain) diperjalanan hujan deras, oya dikarenakan beberapa alasan kami ke venue naik Grab Car, dalam perjalanan tiba-tiba kami dihadang genangan cukup tinggi, nekat menerobos, kami malah terjebak di arus air (iya airnya mengalir tak lagi menggenang), Alhamdulillah pengemudi grabnya sigap, kami langsung dibelokkan ke semacam parkiran di kiri jalan, selanjutnya kami baru tau bahwa itu bagian samping dari sebuah pabrik/Gudang dan halaman rumah orang.
Ketika turun dari tempat parkir saya sempat kaget sekali, air sudah dibawah lutut! Duh bersyukur kami diijinkan masuk ke bagian teras/depan gudang, kedinginan, banjir dan di daerah yang kami tak tahu, dan semakin kumplit ketika saya merasa bahwa saya haid!

Si bungsu tidur di pangkuan saya, si sulung dan tengah adem ayem aja masih mengobrol di mobil, padahal emak bapaknya udah panik (emaknyaaa kalee) dan kami belum makan siang! Saya lihat sudah pukul 2 (dua)
Apa yang terjadi selanjutnya? Ibu yang tinggal di sebelah kami memarkir mobil, mempersilahkan kami singgah, shortly kami ditampung selama kebanjiran, diberi makan, disediakan pembalut. Masyaa Alloh.
Ya, ini adalah salah satu dari sekian banyak hal yang kami sukai dari travelling, kami bertemu dengan orang-orang biasa yang Luar biasa. Ada ibu lain yang mampir dan membiarkan anaknya bermain dengan anak-anak kami. Ada yang meminjami anak-anak mainan. Menunggu banjir surut bukanlah waktu yang singkat, apalagi dalam kondisi kedinginan dan lapar. Alhamdulillah Alloh mengirimkan mereka orang-orang yang baik itu.

Dan yang paling mengagumkan tentu sang pengemudi grabcar yang memilih untuk tidak meninggalkan kami, ketika banjir surut, dia tetap mengantarkan kami. Terima kasih pak!
Terima kasih semua yang telah hadir dalam perjalanan kami, untuk mengajarkan banyak hal bagi kami dan anak-anak..... Alhamdulillah.

Jadi, mau ikut travelling bersama kami?

Homeschooling, Apa sih tujuannya?

Kenapa homeschooling?
salah satu dari 10 pertanyaan yang sering saya dapatkan.
Kenapa sih memilih homeschooling?

Mulai dari akhir. Ketika kami (saya dan suami) menikah maka kami duduk bersama, membicarakan tujuan hidup kami (tepatnya suami mengajak saya bicara) mungkin pening liat istrinya yang terlihat tak jelas arah dan tujuannya hehehe. Maka untuk HS kami pun sama, mulai dari akhir, tujuan hidup kami!



Sekali lagi tulisan keren itu adalah produksi suami saya, ditulis diatas kanvas, ditempel ditembok ruang tengah, yang merangkap antara ruang belajar, ruang main, ruang keluarga, kadang-kadang jadi ruang nonton TV juga.

Shortly, itu adalah tujuan hidup kami, lalu kemudian bari ditarik mundur program-nyas kami lakukan, jadi tak melulu masalah pendidikan anak. Pendidikan istri juga ada :P hahaha...

Tentu saja pendidikan anak-anak adalah salah satu yang serius kami bahas, bagaimana kami mampu menjadi bagian dari orang tua yang dapat melahirkan generasi yang shalih (aamiin aamiin, mampukan ya Alloh), kemudia setelah itu barulah hal-hal teknis lain dibahas, yang (sementara ini) menghasilkan bahwa homeschooling adalah jalan terbaik yang kami pilih, sebagai salah satu ikhtiar kami menuju ke tujuan akhir kami.
Bukan karena kami merasa lebih "mampu" dari yang lain, tapi karena kami merasa ini yang paling cocok untuk kami.
Karena kami adalah yang akan dimintai pertanggung jawaban untuk pendidikan mereka, maka kami berusaha yang terbaik, membangun jaringan, berkolaborasi, dan tentu saja belajar dan terus belajar.

Ya, belajar salah satu yang sangat saya suka dari proses ini adalah, saya makin sadar betapa besar kekurangan saya, dan betapa banyak yang masih harus terus saya pelajari, karena saya adalah teman bermain mereka, sahabat mereka, tempat mereka bertanya, tempat mereka mengadu, guru mereka, koki dan begitu banyak peran lain, Ya karena saya ibu mereka.

Sampai kapan homeschooling?
Belum tahu! karena Alloh yang maha membolak-balikkan hati tapi setidaknya saat ini kami masih merasa ini yang terbaik.

Bismillah, Semoga Alloh memampukan. aamiin

Semoga Alloh memampukan



Ada begitu banyak agenda dan kegiatan di tahun ini, yang telah terlewati dengan manis, ada event-event besar seperti Perak, kamtasia, dan tentu saja banyak perjalanan, banyak pembelajaran, yang sayangnya terlewat untuk dituliskan.
Thanks to facebook and instagram, sebagian jejak perjalanan kami terekam disana

Dan tentu saja tentang homeschooling keluarga kecil ini.

Kami sedang dalam fase travelschooling, belajar melalui sebuah perjalanan, menyerap ilmu langsung dari dari para guru kehidupan. Bersama menyaksikan betapa Alloh begitu dekat dan menyayangi kita, betapa uluran kasih-Nya tak pernah terlambat.... alhamdulillah
Menjalaninya bersama menjadikannya lebih indah, bersama-sama kami menyaksikan keindahan ciptaan-Nya, bersama kami menyaksikan Keagungan-Nya. Lewat indahnya alam, lewat orang –orang yang hadir dalam kehidupan kami, yang mengajarkan kami banyak hal, melalui cara-caranya masing-masing, dan disana dalam setiap prosesnya kami merasakan tak ada yang Tak melalui campur tangan Alloh.

Dan melalui semua perjalanan ini mengajarkan kami, untuk semakin mencintai-Nya.
Bismillah, terus semangat untuk belajar..... dimanapu, kapanpun

Semoga Alloh memampukan. aamiin

Thursday, March 10, 2016

Kegiatan harian anak tak sekolah

Seperti yang pernah saya ceritakan dulu ada perjalanan panjang ketika kami mencoba membuat jadwal kegiatan bagi anak-anak.

Kini Syauqi sembilan tahun, sudah sejak usia delapan tahun dia meminta jadwal yang terstruktur.
Apa yang dia kerjakan lengkap dengan target. awalnya saya menyusunnya sesuai dengan permintaan syauqi, lalu dia begitu sibuk berusaha mencapai targetnya, pernah saya menemuinya begitu bersedih karena target hariannya tak tercapai, tentu saja saya terkejut (dan terheran-heran)
Lalu saya pun mengajaknya berbicara, menghentikan kegiatan belajarnya untuk sementara, dan memulainya lagi hanya setelah dia lebih paham apa tujuan kegiatan belajar itu, apa tujuan akhir hidup kita dan visi besar homeschooling keluarga kami.

Setelah melalui pembicaraan dan diskusi dengan syauqi maka kami memutuskan bahwa yang rutin dilaksanakan selain ibadah wajib adalah standar pagi (ikut istilah teh Kiki)



 Standar pagi adalah kegiatan rutin harian, yang (idealnya) harus dilakukan setiap pagi secara berurutan (by the way urutan no 7 dan 8 ketuker ya, biarin deh belum direvisi, yaa biar ketauan, kalau kami ga suka pencitraan gitu, kalau posting mesti yang bagus-bagus- apaan sey mak! belum tentu ada yang baca! )

Gambar ini kami tempel di dinding rumah untuk mengingatkan syauqi atas kesepakatan kami.
Selain itu juga ada jadwal harian, biar dibahas di lain waktu ahh...

Menulis Lagi

niat bikin blog baru khusus untuk dokumentasi homeschooling anak-anak, apa mau dikata niat tinggal niat.
tapi tak apa yuuk bersihin jamur sama lumut dulu, mulai kita isi lagi rumahnya.
memasuki tahun ketiga proses homeschooling syauqi dan tahun pertama tsaqib, punya anggota baru usia 17 bulan. dan saya tak lagi bekerja, sudah cukup panjang dan terjal jalan. yang kami tempuh (ihh lebay) tapi perjalanan masih sangat panjang.
bismillah
semoga Alloh memampukan
aamiin