Begitu banyak moment yang ketika kita menhalaninya begitu terasa melelahkan, menguras emosi dan air mata, tetapi bila mengenangnya kita bisa terbahak-bahak karenanya, terasa akrab bukan? Yah karena begitulah moment keseharian kita... bersama anak-anak khususnya, terasa menggemaskan ketika dijalani namus lucu untuk dikenang, itulah sebabnya saya berpikir bahwa:
"ketika saya mengalami suatu moment yang menggemaskan, yang perlu saya lakukan adalah melewatinya, tenang.... sebentar saja, karena setelah itu saya yakin moment itu indah untuk dikenang"
Kemarin, saya mengawali pagi dengan bangun sedikit kesiangan, membuat segalanya terasa terburu-buru sejak pagi, ditambah beberapa agenda yang melibatkan tukang Service AC, dan serangga dan komplotannya yang membawa hasil membersihkan rumah beberapa kali, membuat badan sedikit lelah di sore hari, meskipun sempat "recharge" di salon setelah sekian lama tidak saling bersua, tetap merasa sedikit lelah di sore hari.
Seperti biasa ketika anak-anak ikut abinya ketika sholat maghrib, saya punya sedikit waktu untuk bergegas membersihkan rumah (lagi) mandi, kemudian "biasanya" sholat berjamaah dengan suami dirumah, entah mengapa sore itu begitu banyak yang dikerjakan dengan terburu-buru hingga menjelang sholat isya saya baru akan beranjak mandi, setelah sebelumnya kembali menyiapkan anak-anak untuk shalat isya berjamaah di masjid bersama suami.
Saya meninggalkan anak-anak dikamarnya, syauqi membaca asterix, tsaqib sedang asyik bermain, menyiapkan jahe panas untuk suami yang juga kelelahan setelah bersepeda seharian, terdengar suara suami yang menengok anak-anak ke kamar, suami berkomentar "anaknya luluran tuh!" saya menengok, tampak tsaqib memegang botol lotion (yang memang tergeletak di meja kamarnya) dan tangan serta kaki yang penuh terolesi lotion, tapi tunggu sebentar baunya sepertinya lain, saya menahan napas, entah kenapa sabun mandi yang biasanya ada dalam tas berenang syauqi ada di meja, tsaqib melumuri badannya dengan sabun, tsaqib yang baru saja saya mandikan dan gantikan baju koko untuk ke masjid, adzan berkumandang, terpaksa suami dan syauqi pergi ke masjid diam-diam, karena saya harus memandikan tsaqib lagi.
ketika saya memandikann tsaqib, saya teringat belum mematikan kompor, tadi sedang membuat jahe panas, sayapun berlari kedapur, ketika saya kembali tsaqib sudah membuka tutup selang dan menyemprotkan air tepat ke ruang tengah, ke depan televisi! dan ketika saya mengangkatnya untuk masuk ke kamar, saya tersadar bahawa seluruh badannya masih licin, ternyata dia kembali mengoleskan sabun cair yang ada di kamar mandi ke seluruh badannya (lagi) dan melemparkan botolnya ke dalam bak! saya pasrah menatap lantai yang becek (yang baruuu saja selesai saya bersihkan) dan berpikir berbahaya sekali kalau syauqi ulang, dan melihat bak yang berbusa, saya bergegas menggantikan baju tsaqib, meninggalkannya di kamar, mengepel lantai, melirik bak mandi dan berpikir mengsongkannya nanti, kembali berniat untuk mandi saya menengok tsaqib dulu ke kamar, dan..... dia memanjat kasur kakaknya membuka lemarinya, dan membuang sebagian isinya, berhamburan dimana-mana.... saya terdiam... suami dan syauqi datang (saya bahkan tak sempat bertanya, samapi saat ini kenapa mereka lumayan lama di masjid)
saya keluar kamar memeluk suami saya.... manarik napas lalu masuk ke kamar saya sendiri, dan mencoba berpikir, tunggu widya sebentarrr saja Insya alloh semua kejadian ini akan terasa lucu, saya kembali ke kamar, dan membereskan lemari sementara syauqi membawa banyak buku untuk dia dan adiknya, mungkin karena lelah tidak sengaja ibu jari saya terjepit pintu lemari dan berdarah, saya kembali menahan napas, menghembuskannya dan berkata... Astaghfirullah.
Ketika saya akhirnya selesai mandi saya mendengar syauqi berteriak memanggil saya, saya menahan napas, apa lagi? saya masuk ke kamar dan buku-buku bertebaran dimana-mana syauqi nampak kesal pada adiknya, saya memeluknya dan berkata, he just 3, lets talk to him nicely.
Lalu aktivitas malam pun berlalu seperti biasanya, membacakan buku, bercerita, sampai anak-anak tertidur, setelah itu baru membereskan buku-buku, yang sebagian ada dibawah kasur, kolong.... menata kembali rak buku sesuai kriteria, meletakkan mainan dalam kardus besar, rasanya tak ada tenaga untuk memisahkannya, dan berpikir, pasti ini akan terasa lucu ketika saya menuliskannya.
Dan ternyata, YA memang terasa menakjubkan untuk anak seusia tiga tahun tsaqib luar biasa kreatif dan cekatan, dan tentu saja Multitasking, meskipun saat ini jempol saya masih terasa cenut-cenut, terasa indah ketika baru saja syauqi mengeceknya dan berkata, sudah sembuh umi? sambil mengelus ibu jari saya. Alhamdulillah
Sunday, September 22, 2013
Saturday, September 21, 2013
Sedikit kegiatan anak-anak
Ats-Tsaqib (3 Y) dikelas robotic, sebenernya belum rela "bayi" kecilku ikutan les, tapi anter jemput mas-nya bikin adiknya merangek pengan ikutan juga
Latihan Electone (belum punya piano)
Kegiatan rutin tiap pagi, jalan-jalan dan lari pagi
Friday, September 20, 2013
Infak kok 5 ribu terus...
Mempersiapkan anak-anak sholat Jumat seperti biasa, agar ketika abinya menjemput sudah siap, seperti biasa saya menyiapkan uang untuk infak
syauqi: Mi, aku mau seratus ribu donk
Umi : buat infak sayang, lima ribu yah (saya pikir dia minta untuk disimpan)
Syauqi: Infak kok lima ribu terus, dua puluh ribu deh
saya terdiam, mengambil dompet dan memeberikan dua lembar uang sepuluh ribuan
Abi: Insya Alloh diganti yang lebih banyak (ternyata abi menyaksikan adegan barusan)
Umi: aamiin
Subhanalloh, rasanya tertampar sekali saya, yah Infak kok lima ribu terus, belanja baju bisa ratusan ribu, belanja buku bisa jutaan, kenapa belanja untuk Alloh, yang memberika rejeki cuma 5 ribu.
Alhamdulillah, terima kasih sayang, untuk mengingatkan umi, semoga Istiqomah, sholeh selalu nak, kapanpun, dimanapun, semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin
syauqi: Mi, aku mau seratus ribu donk
Umi : buat infak sayang, lima ribu yah (saya pikir dia minta untuk disimpan)
Syauqi: Infak kok lima ribu terus, dua puluh ribu deh
saya terdiam, mengambil dompet dan memeberikan dua lembar uang sepuluh ribuan
Abi: Insya Alloh diganti yang lebih banyak (ternyata abi menyaksikan adegan barusan)
Umi: aamiin
Subhanalloh, rasanya tertampar sekali saya, yah Infak kok lima ribu terus, belanja baju bisa ratusan ribu, belanja buku bisa jutaan, kenapa belanja untuk Alloh, yang memberika rejeki cuma 5 ribu.
Alhamdulillah, terima kasih sayang, untuk mengingatkan umi, semoga Istiqomah, sholeh selalu nak, kapanpun, dimanapun, semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin
Thursday, September 19, 2013
Kegiatan di rumah kami
Sebenarnya, Homeschooling di rumah kami tentu saja sudah berlangsung sejak lama, karena belajar khan kapan saja, namun karena tahun ini "seharusnya" syauqi masuk sekolah formal atau Sekolah Dasar (SD, Primary, Elementary, Y1, you name it)
Konsep dasarnya tentu saja, Al Qur'an dan Al-Hadits, kurikulum terbaik yang ada di muka bumi ini, berusaha selalu mengembalikan pada Sang Pemilik Segalanya.... saya banyak melirik blognya mbak lina yang sudah menterjemahkannya dalam bentuk yang baik, sangat baik.
Buat kami syauqi sudah mau tidur terpisah diusia 6 tahun sesuai yang di sunahkan, sudah merupakan pencapaian yang luar biasa, Sholat 5 waktu, mau mengaji dan menghapal Qur'an sedikit demi sedikit, belajar adab sesuai yang dicontohkan oleh Manusia terbaik Rasululloh SAW, satu per satu, setapak demi setapak sedikit demi sedikit, itu saja sudah cukup buat kami, setidaknya saat ini, syauqi yang tidak merasa berat untuk sholat wajib berjamaah sudah merupakan pencapaian yang luar biasa menurut kami. Alhamdulillah
Maka Kegiatan dirumah kami pun tak banyak ragam, memastikan syauqi dan tsaqib siap disetiap waktu sholat, berjamaah bersama abi di masjid, atau bersama umi dirumah, Belajar IQRO dan menghapal surat dari Juz 30.
Pembagian waktunya umumnya;
Jadwal dirumah kami sangat fleksibel, tergantung bangunnya anak-anak, dan apabila tidak ada kegiatan yang Force majeure seperti menemani abi keluar kota, main kerumah teman, ikut umi arisan, atau acara-acara mendadak lainnya. Untuk wekend biasanya kami berkegiatan diluar, bulan ini kami mengkhususkan ke bangunan bersejarah, sebenernya awalnya ke masjid-masjid tua yang ada di kota kami, lama-lama merambah ke museum dan peninggalan bersejarah lainnya, termasuk menyusuri jalan Daendels atau Jalan Raya Pos.
Setahun dua kali kami menganggaran untuk field trip yang agak jauh dan lumayan lama, satu atau dua bulan sekali mengunjungi kakek nenek, (Alhamdulillah kediaman orang tua saya dan suami bida ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam jadi bisa sekali jalan)
Meskipun demikian, tetap saja banyak pertanyaan bermunculan, kurikulum apa yang dipakai (teteup) sebenarnya saya sangat tertarik pada konsep pendidikan Charlotte Mason meskipun tentu saja harus di adjust sana-sini untuk disesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami, namun saya sangat jatuh cinta pada Ide-Ide besarnya. Caranya menghargai anak-anak sebagai individu yang utuh. bagaimana menanamkan Ide-ide besar, bagaimana cara membangun kebiasaan yang baik, saya banyak menerapkannya, termasuk mengkoleksi buku-buku karya terbaik khusus untuk ini akan saya bahas sendiri, bagaimana saya kemudian jadi over budget membeli buku, uupsss my bad hehehehehe :D
Demikianlah seklumit kegiatan dirumah kami, semoga Alloh memudahkan segala ikhtiar kami. aamiin.
Uuppss sepertinya saya lupa meneyelipkan sosialisasi dalam daftar kegiatan kami :D
Konsep dasarnya tentu saja, Al Qur'an dan Al-Hadits, kurikulum terbaik yang ada di muka bumi ini, berusaha selalu mengembalikan pada Sang Pemilik Segalanya.... saya banyak melirik blognya mbak lina yang sudah menterjemahkannya dalam bentuk yang baik, sangat baik.
Buat kami syauqi sudah mau tidur terpisah diusia 6 tahun sesuai yang di sunahkan, sudah merupakan pencapaian yang luar biasa, Sholat 5 waktu, mau mengaji dan menghapal Qur'an sedikit demi sedikit, belajar adab sesuai yang dicontohkan oleh Manusia terbaik Rasululloh SAW, satu per satu, setapak demi setapak sedikit demi sedikit, itu saja sudah cukup buat kami, setidaknya saat ini, syauqi yang tidak merasa berat untuk sholat wajib berjamaah sudah merupakan pencapaian yang luar biasa menurut kami. Alhamdulillah
Maka Kegiatan dirumah kami pun tak banyak ragam, memastikan syauqi dan tsaqib siap disetiap waktu sholat, berjamaah bersama abi di masjid, atau bersama umi dirumah, Belajar IQRO dan menghapal surat dari Juz 30.
Pembagian waktunya umumnya;
- anak-anak bangun tidur, sholat subuh
- olah raga ringan di sekitar rumah
- Sarapan Buah dan makanan yang relatif ringan (sereal, sandwich, atau yang sejenis)
- Olah raga diluar rumah, ke taman (play ground) atau ke kolam yang ada jalan setapak yang biasa kami jadikan jogging track, syauqi tiap pagi wajib lari sudah ada targetnya berapa putaran setiap harinya, disesuaikan tempatnya, tsaqib sey mengikuti saja. masih semaunya.
- Pulang makan pagi (kadang mandi sebelum lari, atau sesudah lari)
- Selanjutnya free time, ada kalanya mengerjakan worksheet, melukis, membuat hasta karya, saya membuat jadwal dan menyiapkan materi biasanya malam sebelumnya, hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau kami tidak memnemukan kegiatan yang menarik, prakteknya, bahan yang saya siapkan bisa tergeletak berhari-hari biasanya jalan-jalan dan lari pagi memberikan ide yang cukup untuk anak-anak. Di Hari les, free time ini diisi dengan les renang selasa dan kamis.
- Selesai free time, biasanya mendekati waktu makan siang, saya memasak makan siang biasanya di pagi hari jadi siang hanya menghangatkan kalau perlu dan menyiapkan meja makan saja, syauqi biasanya yang menyiapkan meja makan.
- kalau waktunya tidak terlalu mepet kadang kami makan siang sebelum adzan dzuhur, kadang setelah sholat berjamaah di masjid atau di rumah, tergantung apakah abi pulang makan siang atau tidak, karena syauqi dan tsaqib ke masjid bersama abi.
- Setelah itu waktunya istirahat, tidur siang untuk tsaqib, syauqi sendiri sudah jarang tidur siang, tapi saya mewajibkan syauqi untuk istirahat, meskipun tidak tidur.
- Kalau anak-anak tidur, biasanya saya menyiapkan keperluan makan malam, atau kalau syauqi tidak tidur ini jadi waktu reading time karena biasanya jam segitu suasan sangat lengang (komplek kami selalu lengang sebenarnya, tapi di jam sesudah makan siang jadi jauuuh lebing lengan mungkin karena panas, dan banyak orang tidur siang). di hari les maka sesudah waktu istirahat akan ada les robotic Selasa dan kamis jam 3 sore untuk syauqi, tsaqib hari selasa saja, tapi kamis ikut menemasi mas-nya les. dan Jumat untuk les piano jam 4 sore.
- Syauqi mengikuti 3 les, Robotic , renang, dan piano. tsaqib 1, robotic saja, waktunya saya atur sehingga ada di free time pagi dan sore, sehingga tidak menggeser kegiatan wajib, dan saya padatkan hanya di 3 hari saja, selasa, kamis dan Jumat.
- Setelah istirahat, atau setelah pulang les apabila belum terlalu sore, apabila abi pulang cepat, atau saya sudah menyiapkan makan malam, maka anak-anak akan keluar ke taman, atau lapangan (ada lap bola, basket dan tennis di dalam komplek) apabila bersama abinya berarti saya menyiapkan makan malam.
- Selanjutnya sholat Maghrib berjamaah, mengaji Iqro, menghapal, kadang makan malam, kadang setelah berjamaah Isya baru makan malam, apabila belum mengantuk anak-anak bermain Wii, atau games di laptop atau Ipad, sesudah itu tidur.
Jadwal dirumah kami sangat fleksibel, tergantung bangunnya anak-anak, dan apabila tidak ada kegiatan yang Force majeure seperti menemani abi keluar kota, main kerumah teman, ikut umi arisan, atau acara-acara mendadak lainnya. Untuk wekend biasanya kami berkegiatan diluar, bulan ini kami mengkhususkan ke bangunan bersejarah, sebenernya awalnya ke masjid-masjid tua yang ada di kota kami, lama-lama merambah ke museum dan peninggalan bersejarah lainnya, termasuk menyusuri jalan Daendels atau Jalan Raya Pos.
Setahun dua kali kami menganggaran untuk field trip yang agak jauh dan lumayan lama, satu atau dua bulan sekali mengunjungi kakek nenek, (Alhamdulillah kediaman orang tua saya dan suami bida ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam jadi bisa sekali jalan)
Meskipun demikian, tetap saja banyak pertanyaan bermunculan, kurikulum apa yang dipakai (teteup) sebenarnya saya sangat tertarik pada konsep pendidikan Charlotte Mason meskipun tentu saja harus di adjust sana-sini untuk disesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami, namun saya sangat jatuh cinta pada Ide-Ide besarnya. Caranya menghargai anak-anak sebagai individu yang utuh. bagaimana menanamkan Ide-ide besar, bagaimana cara membangun kebiasaan yang baik, saya banyak menerapkannya, termasuk mengkoleksi buku-buku karya terbaik khusus untuk ini akan saya bahas sendiri, bagaimana saya kemudian jadi over budget membeli buku, uupsss my bad hehehehehe :D
Demikianlah seklumit kegiatan dirumah kami, semoga Alloh memudahkan segala ikhtiar kami. aamiin.
Uuppss sepertinya saya lupa meneyelipkan sosialisasi dalam daftar kegiatan kami :D
What They Said
diawali dengan,
Selanjutnya adalah
Kurikulum, atau Ijazah, rasanya masih terlalu jauh saya tidak mau someday anak-anak berkata; Everything I've ever cared about, everything I've worked for, has all been preparation for a future that no longer exists-The Day After Tomorrow (2004).
kalau pertanyaan yang keempat no comment lah, mual bahasnya.
bagi yang mau belajar Home schooling bisa dimulai dari rumahinspirasi saya dulu juga belajar banyak dari situ, eh sampai sekarang masih.
Tetapi intinya, dengan berjalannya waktu saya bisa membedakan, mana yang tanya hanya buat basa-basi, yang tanya serius (datengin saya kerumah naik motor, jauuuh sekali padahal) dan yang tujuannya hanya mau menunjukkan betapa salahnya keputusan yang saya ambil.
Kami memutuskan Homeschooling tidak tiba-tiba, dalam semalam, dapet wangsit terus home school, kami melalui proses yang panjang, diskusi yang panjang, belajar dan belajar, bertanya, browsing dan masih terus hingga saat ini, jadi meskipun pertanyaan itu terus mengalir, yang bisa saya lakukan adalah, keep swimming, keep swimming ala dori bahwa no matter what they said ini adalah jalan terbaik untuk kami setidaknya saat ini.
belakangan ini beberapa pertanyaan ini kadang-kadang jadi pertanyaan/atau pernyataan lanjutan lumayan menganggu kadang-kadang buat saya:
- Anaknya Homeschool?
Selanjutnya adalah
- Sosialisasinya gimana (paling banyak)
- Kurikulumnya gimana?
- Ijasahnya gimana?
- oohh Home Schooling K*k S**o? (paling menyebalkan)
Kurikulum, atau Ijazah, rasanya masih terlalu jauh saya tidak mau someday anak-anak berkata; Everything I've ever cared about, everything I've worked for, has all been preparation for a future that no longer exists-The Day After Tomorrow (2004).
kalau pertanyaan yang keempat no comment lah, mual bahasnya.
bagi yang mau belajar Home schooling bisa dimulai dari rumahinspirasi saya dulu juga belajar banyak dari situ, eh sampai sekarang masih.
Tetapi intinya, dengan berjalannya waktu saya bisa membedakan, mana yang tanya hanya buat basa-basi, yang tanya serius (datengin saya kerumah naik motor, jauuuh sekali padahal) dan yang tujuannya hanya mau menunjukkan betapa salahnya keputusan yang saya ambil.
Kami memutuskan Homeschooling tidak tiba-tiba, dalam semalam, dapet wangsit terus home school, kami melalui proses yang panjang, diskusi yang panjang, belajar dan belajar, bertanya, browsing dan masih terus hingga saat ini, jadi meskipun pertanyaan itu terus mengalir, yang bisa saya lakukan adalah, keep swimming, keep swimming ala dori bahwa no matter what they said ini adalah jalan terbaik untuk kami setidaknya saat ini.
belakangan ini beberapa pertanyaan ini kadang-kadang jadi pertanyaan/atau pernyataan lanjutan lumayan menganggu kadang-kadang buat saya:
- Pasti sabar banget yah, bisa ngajarin anak sendiri.
- wah, pinter banget yah ibunya bisaan ngajarin, atau
- yakin tuh anaknya diajarin sendiri ga kasian (yah, kesimpulannya berbanding terbalik dengan diatas)
Buku, Games dan Televisi
Tiga kata yang belakangan ini sering membuat saya menahan nafas,
Yang Pertama Buku, untuk menanamkan kecintaan anak-anak pada buku, saya nyaris membeli semua jenis buku anak, belakangan tersotir yang kurang layak akhirnya masuk kardus, memenuhi garasi, dan menggeser penghuni asli garasinya ke teras, targetnya 1 hari satu buku, namun sejak bulan juni lalu saya full dirumah, kami membuat kebiasaan baru, Reading time bahasa saya dan syauqi, saya, syauqi, tsaqib akan bersama-sama membaca buku lalu kami bercerita tentang buku yang kami baca, Alhamdulillah saya sangat gembira atas minta baca syauqi yang besar, sampai.... saya menemukan kebiasaan saya ada di syauqi, tidak bisa berhenti kalau sudah membaca, bukunya diseret-seret kemana-mana, males makan, olah raga buru-buru, sampai akhirnya dengan berat hati saya mengambil keputusan:
Yang kedua adalah Games, yah dirumah kami memang games diijinkan namun ada batas waktunya, syauqi Alhamdulillah sudah sangat mengerti itu, berapa lama dia seharusnya bermain games, baik di Laptop, nintendi Wii, maupun menggunakan Ipad, Tsaqib masih sering rewel ketika waktunya bermain games dihentikan, hmm PR besar buat kami.
Nah, yang terkhir adalah Televisi, ini sebearnya salah saya, dahulu kami memang menerapkan NO TIVI, sukes memang karena kami konsisten, ketia kemudian, boleh pakai TV untuk nonton DVD, dan lain-lain disitulah mulai timbul masalahnya, ketika sudah menggunakan Televisi, maka kamipun melonggar untuk tidak apa menyalakan Chanel yang baik, kemudian saya sadar, Bahkan untuk Chanel anak-anak pun, begitu banyak muatan yang kurang layak untuk anak-anak, IKlan terutama!! bahkan untuk TV berlangganan yang mengaku tanpa Iklan! Let say kita sudah memilih acara yang sesuai,tiba-tiba nongol dengan ajaibnya iklan, seperti NEXT atau THIS Weeekend! Untuk acara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di rumah kami, Tahan Napas tentu saja, apalagi kami tinggal di komplek dengan chanel Televisi gratisan yang sudah dipatok, ga bisa nambah, dari satu provider.
Pendampingan dari Orang Tua mutlak diperlukan, dalam hal televisi, karena eefek yang ditimbulkan begitu besar, mungkin memang perlu penelitian yang valid, namun menurut saya ada yang salah dengan konsentrasi syauqi ketika dia mulai menonton televisi, maka saya pun menghentikannya, seketika, tidak ada TV sama sekali, bahkan untuk bermain Wii.
Alhamdulillah membaik, selanjutnya saya beri pengertian tentang batasan-batasan, bahwa inti dari segala perbuatan itu adalah kita tahu, mana batas antara baik dan buruk, kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus, setelah saya rasa anak-anak cukup mengerti saya kembali mengijinkan menggunakan Televisi, namun dengan beberapa batasan, seperti waktu maksimal, dan adanya saya atau abinya yang mendampingi, tentu saja sekali lagi Tsaqib (3Y) adalah PR besar buat saya, siang ini sebelum tidur siang dia kembali menangis ketika saya mematikan televisi, waktunya dia istirahat siang setelah bersama kakaknya memainkan Wii kurang lebih 45 menit, dahulu saya sering mengalah pada tangisnya, sekarang saya tau, menuruti kemauannya berarti saya tidak menyayanginya, sering kali saya mendiamkannya beberapa waktu, setelah dia relatif tenang saya baru menggendongnya, membawanya ke aktivitas yang lain, memang tidak mudah membangun kebiasaan yang baik, namun bila kita berusaha, dan terus bermunajat Pada-Nya insya Alloh Alloh akan selalu memudahkan. aamiin
Yang Pertama Buku, untuk menanamkan kecintaan anak-anak pada buku, saya nyaris membeli semua jenis buku anak, belakangan tersotir yang kurang layak akhirnya masuk kardus, memenuhi garasi, dan menggeser penghuni asli garasinya ke teras, targetnya 1 hari satu buku, namun sejak bulan juni lalu saya full dirumah, kami membuat kebiasaan baru, Reading time bahasa saya dan syauqi, saya, syauqi, tsaqib akan bersama-sama membaca buku lalu kami bercerita tentang buku yang kami baca, Alhamdulillah saya sangat gembira atas minta baca syauqi yang besar, sampai.... saya menemukan kebiasaan saya ada di syauqi, tidak bisa berhenti kalau sudah membaca, bukunya diseret-seret kemana-mana, males makan, olah raga buru-buru, sampai akhirnya dengan berat hati saya mengambil keputusan:
- Memberikan contoh yang baik, bahwa saya juga tidak baca sembarangan (maksudnya disembarang tempat, dengan posisi sembarangan) saya suka baca sambil masak, hiks contoh yang buruk.
- Memberikan pengertian bahwa bahkan untuk hal baik (membaca contohnya), juga harus dilakukan dengan cara-cara yang baik.
Yang kedua adalah Games, yah dirumah kami memang games diijinkan namun ada batas waktunya, syauqi Alhamdulillah sudah sangat mengerti itu, berapa lama dia seharusnya bermain games, baik di Laptop, nintendi Wii, maupun menggunakan Ipad, Tsaqib masih sering rewel ketika waktunya bermain games dihentikan, hmm PR besar buat kami.
Nah, yang terkhir adalah Televisi, ini sebearnya salah saya, dahulu kami memang menerapkan NO TIVI, sukes memang karena kami konsisten, ketia kemudian, boleh pakai TV untuk nonton DVD, dan lain-lain disitulah mulai timbul masalahnya, ketika sudah menggunakan Televisi, maka kamipun melonggar untuk tidak apa menyalakan Chanel yang baik, kemudian saya sadar, Bahkan untuk Chanel anak-anak pun, begitu banyak muatan yang kurang layak untuk anak-anak, IKlan terutama!! bahkan untuk TV berlangganan yang mengaku tanpa Iklan! Let say kita sudah memilih acara yang sesuai,tiba-tiba nongol dengan ajaibnya iklan, seperti NEXT atau THIS Weeekend! Untuk acara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di rumah kami, Tahan Napas tentu saja, apalagi kami tinggal di komplek dengan chanel Televisi gratisan yang sudah dipatok, ga bisa nambah, dari satu provider.
Pendampingan dari Orang Tua mutlak diperlukan, dalam hal televisi, karena eefek yang ditimbulkan begitu besar, mungkin memang perlu penelitian yang valid, namun menurut saya ada yang salah dengan konsentrasi syauqi ketika dia mulai menonton televisi, maka saya pun menghentikannya, seketika, tidak ada TV sama sekali, bahkan untuk bermain Wii.
Alhamdulillah membaik, selanjutnya saya beri pengertian tentang batasan-batasan, bahwa inti dari segala perbuatan itu adalah kita tahu, mana batas antara baik dan buruk, kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus, setelah saya rasa anak-anak cukup mengerti saya kembali mengijinkan menggunakan Televisi, namun dengan beberapa batasan, seperti waktu maksimal, dan adanya saya atau abinya yang mendampingi, tentu saja sekali lagi Tsaqib (3Y) adalah PR besar buat saya, siang ini sebelum tidur siang dia kembali menangis ketika saya mematikan televisi, waktunya dia istirahat siang setelah bersama kakaknya memainkan Wii kurang lebih 45 menit, dahulu saya sering mengalah pada tangisnya, sekarang saya tau, menuruti kemauannya berarti saya tidak menyayanginya, sering kali saya mendiamkannya beberapa waktu, setelah dia relatif tenang saya baru menggendongnya, membawanya ke aktivitas yang lain, memang tidak mudah membangun kebiasaan yang baik, namun bila kita berusaha, dan terus bermunajat Pada-Nya insya Alloh Alloh akan selalu memudahkan. aamiin
First Time on theater
yup, finally First Time on theater, sebenernya udah liat iklan kalau Planes bakal tayang di Indonesia tanggal 6 September si mas udah heboh banget apalagi kebetulan kita sedang ada di jakarta yang nginepnya tinggal ngesok udah sampai XXI yang kereeen, tapi berhubung waktu tayangnya agak susah disesuaikan maka saya pun berkata, Insya Alloh nanti pulang kita nnton yah nak.
akhirnya 11 hari kemudia, malam selasa kemarin (hahahaha ketauan Nomat) kita nonton, ber-4, saya suami, syauqi (6Y) dan Tsaqib (3Y), sejak sebelum berangkat beberapa hari sebelumnya saya sudah mengajarkan "Tata krama" di bioskop, engga boleh berisik mengganggu orang lain, ga boleh bawa makanan (anak-anak ga suka pop corn) saya juga memberikan gambaran suasana di dalam bioskop. Sebelum berangkat kami makan malam terlebih dahulu, dan buang air kecil.
Sebelum berangkat, saya dan suami menyusun plan A plan B, apabila tiba-tiba adiknya minta keluar, atau menolak masuk, lalu disanalah kami, a cozy teather, cuma ada anak-anak kami dan 1 anak perempuan yang lebih besar dari syauqi selebihnya remaja "sigh" berharap tidak ada adegan yang aneh-aneh. Alhamdulillah ga ada.
Lalu kamipun ber empat disana, Alhamdulillah diluar dugaan, anak-anak sangat tenang, sangat bersemangat menyaksikan film yang diputar, berbicara sangat perlahan (berbisik) jika ada yang ditanyakan.
Untuk sebagian orang tidak ada yang istimewa dari "menonton bioskop" tapi bagi kami, dimana kami percaya belajar adalah dari setiap pengalaman perjalanan hidup, kami (saya terutama) sangat bangga anak-anak sudah mulai bisa menempatkan diri, bagaimana bersikap sesuai tempat.
Buat kami, menanamkan pengertian kepada anak-anak untuk tidak berteriak-teriak di tempat umum, saling mengerti dan memahami satu sama lain, belajar bahwa di dunia ini begitu banyak perbedaan dan menghargainya, itu adalah sangat penting untuk kami, setidaknya saat ini, pendidikan karakter, character building, kami menyebutnya adab, berusaha membentuk akhlak yang baik, itu saja, itu dulu, itu yang terpenting, setidaknya saat ini. Calistung?? ahh itu bisa kapan-kapan.
kembali ke film-nya, buat saya muatannya lumayan lah, meskipun mengusung tema yang kurang lebih sama dengan Cars, tapi gambarnya bagus, Moral Story-nya cukup baik. Over All kami cukup senang malam itu.
akhirnya 11 hari kemudia, malam selasa kemarin (hahahaha ketauan Nomat) kita nonton, ber-4, saya suami, syauqi (6Y) dan Tsaqib (3Y), sejak sebelum berangkat beberapa hari sebelumnya saya sudah mengajarkan "Tata krama" di bioskop, engga boleh berisik mengganggu orang lain, ga boleh bawa makanan (anak-anak ga suka pop corn) saya juga memberikan gambaran suasana di dalam bioskop. Sebelum berangkat kami makan malam terlebih dahulu, dan buang air kecil.
Sebelum berangkat, saya dan suami menyusun plan A plan B, apabila tiba-tiba adiknya minta keluar, atau menolak masuk, lalu disanalah kami, a cozy teather, cuma ada anak-anak kami dan 1 anak perempuan yang lebih besar dari syauqi selebihnya remaja "sigh" berharap tidak ada adegan yang aneh-aneh. Alhamdulillah ga ada.
Lalu kamipun ber empat disana, Alhamdulillah diluar dugaan, anak-anak sangat tenang, sangat bersemangat menyaksikan film yang diputar, berbicara sangat perlahan (berbisik) jika ada yang ditanyakan.
Untuk sebagian orang tidak ada yang istimewa dari "menonton bioskop" tapi bagi kami, dimana kami percaya belajar adalah dari setiap pengalaman perjalanan hidup, kami (saya terutama) sangat bangga anak-anak sudah mulai bisa menempatkan diri, bagaimana bersikap sesuai tempat.
Buat kami, menanamkan pengertian kepada anak-anak untuk tidak berteriak-teriak di tempat umum, saling mengerti dan memahami satu sama lain, belajar bahwa di dunia ini begitu banyak perbedaan dan menghargainya, itu adalah sangat penting untuk kami, setidaknya saat ini, pendidikan karakter, character building, kami menyebutnya adab, berusaha membentuk akhlak yang baik, itu saja, itu dulu, itu yang terpenting, setidaknya saat ini. Calistung?? ahh itu bisa kapan-kapan.
kembali ke film-nya, buat saya muatannya lumayan lah, meskipun mengusung tema yang kurang lebih sama dengan Cars, tapi gambarnya bagus, Moral Story-nya cukup baik. Over All kami cukup senang malam itu.
Wednesday, September 18, 2013
sunat, dan artinya buat saya
well, pengertian dan mengapa anak-anak kami perlu disunat baik secara agama maupun kesehatan tidak akan dibahas disini, karena itu ada dimana-mana.
ini tentang momment sunat untuk saya, sejak lama kami sudah merencanakan anak-anak untuk disunat apalagi tsaqib yang phimosis, namun dengan penolakan dan keaktivannya, kami kuatir bius lokal akan terlalu beresiko baik untuk proses sunatnya sendiri maupun trauma yang ditimbulkan.
karena insiden tsaqib kena roda sepeda hari sabtu 8 juni (maafkan umi nak) setelah periksa dan rontgen di RS terdekat yang sangat mengecewakan, kamipun mencari second opinion sekaligus karena mas syauqi beberapa kali mengeluh gatal, maka kamipun mempercepat prosesnya, kami pun membawa anak-anak ke seorang dokter bedah anak yang luar biasa baik dan informatif, Alhamdulillah.
senin, 10 juni 2013 kami bertemu dengan dokter bedah anak dari dia kami tau syauqi ternyata urgent untuk disunat dan karena waktu yang dibutuhkan lebih lama (jauuh lebih lama) dibanding sunat pada umunya maka biusnyapun harus total, keterangan selanjutnya hanya bergaung2 ditelinga saya, airmata sudah terlanjur membanjir, bayiku yang kecil harus dioperasi........ selanjutnya semua seperti dalam tombol fast forward cek darah rontgen.... keesokan paginya bernagi tugas saya dan suami untuk menjaga dan membawa anak-anak mengurus administrasi dan lain-lain, muali pasang infus, puasa sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi saya, nyaris saya terus menangis diluar ruangan, sampai menjelang syauqi masuk kamar operasi suami berkata "special kids only given to special mom, like you, be tough" semuanya serba mendadak, mami, ibu mertua kakak-kakak baru mendengar kabar pagi itu, suami mendampingi syauqi masuk ke ruang operasi melihat mental saya yang anjlok dokter melarang saya masuk, dan saya menunggu hampir dua setengah jam (2.5) di luar ruangan operasi, memegang Qur'an biru sambil terus menangis, tsaqib ada di kamar perawatan saya titipkan pada pengasuh sementara, beberapa orang yang saya tidak kenal menyapa, menguatkan duduk bersama, menjelang operasi berakhir barulah mami dan kakak hadir.saat ketika mendengar tangisannya bersamaan dengan dibukanya pintu kamar pemulihan saya bersujud... bersyukur saya masih diberi kesempatan mendengar suaranya....
masa peralihan antara sadar dan tidak sungguh menghancurkan hati saya beberapa saat kemudian syauqi tertidur, ketika terbangun sudah mulai berkomunikasi dengan baik, Subhanalloh....
malamnya saya bersujud... 6 tahun 5 bulan usianya, ini kali pertamanya saya diuji melihatnya kesakitan, bertahun-tahun saya menikmati hari-hari indah bersamanya, kadang saya lupa bersyukur, atas kesahatan selama ini, atas waktu yang berlimpah, suatu titik balik bagi saya, makin bulat niat dihati saya, inilah saatnya untuk saya menghabiskan hari hari bersama mereka, suami dan ank-anak.
keesokan harinya syauqi sudah sangat membaik, karena itulah kami memberanikan diri, esoknya, kamis 13 juni 2013 tsaqib melalui proses yang sama, tanpa adanya "tambahan prosedur" maka prosesnyapun kurang lebih hanya 30 menit sudah termasuk persiapan, saya mendampingi sampai dengan tsaqib dibius menyaksikan prosesnya abinya saja saya menanti diluar, tentu saja doa terus mengalir namun secara mental saya lebih siap termasuk menghadapi proses sadarnya, namun karena bius yang digunakan adalah TIFA maka sesaat bius dilepas anak-anak langsung tersadar, karena proses sunatnya lebih sebentar maka proses sadarnyapun lebih cepat.
meskipun harus berkutat dengan tsaqib yang tidak mau sama sekali disetuh obat obatan termasuk betadine, saya tetap berbahagia, telah menjalni proses ini bersama mereka, suatu proses pendewasaan untuk saya, IKHLAS ternyata saya masih harus belajar banyak.
ini tentang momment sunat untuk saya, sejak lama kami sudah merencanakan anak-anak untuk disunat apalagi tsaqib yang phimosis, namun dengan penolakan dan keaktivannya, kami kuatir bius lokal akan terlalu beresiko baik untuk proses sunatnya sendiri maupun trauma yang ditimbulkan.
karena insiden tsaqib kena roda sepeda hari sabtu 8 juni (maafkan umi nak) setelah periksa dan rontgen di RS terdekat yang sangat mengecewakan, kamipun mencari second opinion sekaligus karena mas syauqi beberapa kali mengeluh gatal, maka kamipun mempercepat prosesnya, kami pun membawa anak-anak ke seorang dokter bedah anak yang luar biasa baik dan informatif, Alhamdulillah.
senin, 10 juni 2013 kami bertemu dengan dokter bedah anak dari dia kami tau syauqi ternyata urgent untuk disunat dan karena waktu yang dibutuhkan lebih lama (jauuh lebih lama) dibanding sunat pada umunya maka biusnyapun harus total, keterangan selanjutnya hanya bergaung2 ditelinga saya, airmata sudah terlanjur membanjir, bayiku yang kecil harus dioperasi........ selanjutnya semua seperti dalam tombol fast forward cek darah rontgen.... keesokan paginya bernagi tugas saya dan suami untuk menjaga dan membawa anak-anak mengurus administrasi dan lain-lain, muali pasang infus, puasa sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi saya, nyaris saya terus menangis diluar ruangan, sampai menjelang syauqi masuk kamar operasi suami berkata "special kids only given to special mom, like you, be tough" semuanya serba mendadak, mami, ibu mertua kakak-kakak baru mendengar kabar pagi itu, suami mendampingi syauqi masuk ke ruang operasi melihat mental saya yang anjlok dokter melarang saya masuk, dan saya menunggu hampir dua setengah jam (2.5) di luar ruangan operasi, memegang Qur'an biru sambil terus menangis, tsaqib ada di kamar perawatan saya titipkan pada pengasuh sementara, beberapa orang yang saya tidak kenal menyapa, menguatkan duduk bersama, menjelang operasi berakhir barulah mami dan kakak hadir.saat ketika mendengar tangisannya bersamaan dengan dibukanya pintu kamar pemulihan saya bersujud... bersyukur saya masih diberi kesempatan mendengar suaranya....
masa peralihan antara sadar dan tidak sungguh menghancurkan hati saya beberapa saat kemudian syauqi tertidur, ketika terbangun sudah mulai berkomunikasi dengan baik, Subhanalloh....
malamnya saya bersujud... 6 tahun 5 bulan usianya, ini kali pertamanya saya diuji melihatnya kesakitan, bertahun-tahun saya menikmati hari-hari indah bersamanya, kadang saya lupa bersyukur, atas kesahatan selama ini, atas waktu yang berlimpah, suatu titik balik bagi saya, makin bulat niat dihati saya, inilah saatnya untuk saya menghabiskan hari hari bersama mereka, suami dan ank-anak.
keesokan harinya syauqi sudah sangat membaik, karena itulah kami memberanikan diri, esoknya, kamis 13 juni 2013 tsaqib melalui proses yang sama, tanpa adanya "tambahan prosedur" maka prosesnyapun kurang lebih hanya 30 menit sudah termasuk persiapan, saya mendampingi sampai dengan tsaqib dibius menyaksikan prosesnya abinya saja saya menanti diluar, tentu saja doa terus mengalir namun secara mental saya lebih siap termasuk menghadapi proses sadarnya, namun karena bius yang digunakan adalah TIFA maka sesaat bius dilepas anak-anak langsung tersadar, karena proses sunatnya lebih sebentar maka proses sadarnyapun lebih cepat.
meskipun harus berkutat dengan tsaqib yang tidak mau sama sekali disetuh obat obatan termasuk betadine, saya tetap berbahagia, telah menjalni proses ini bersama mereka, suatu proses pendewasaan untuk saya, IKHLAS ternyata saya masih harus belajar banyak.
maaf
Dan malam ini saya terbangun, seperti malam-malam yang lain saya kembali meneteskan air mata, untuk banyak kesalahan yang telah saya buat hari ini, untuk belum bisa cukup bersabar, untuk belum menjadi ibu yang baik, untuk belum menjadi istri yang baik.
menyesal.... merasa bersalah, dan berharap agar hari ini lebih baik dari kemarin, berharap agar saya lebih sabar, lebih baik, semoga Alloh selalu memudahkan. aamiin
abi, syauqi, tsaqib maafkan umi
menyesal.... merasa bersalah, dan berharap agar hari ini lebih baik dari kemarin, berharap agar saya lebih sabar, lebih baik, semoga Alloh selalu memudahkan. aamiin
abi, syauqi, tsaqib maafkan umi
Dan semua pun beradaptasi
Muali pertengahan juni saya mulai
menjalankan 24/7 shift alias tidak lagi punya kewajiban sebagai ibu bekerja,
maaf tapi posting kali ini bukan membahas tentang ibu bekerja VS ibu rumah
tangga.
Ini adalah tentang adaptasi, adaptasi saya,
adaptasi anak-anak, mungkin adaptasi suami juga meskipun tidak terlalu terlihat, piss mbi
Meskipun sebelumnya anak-anak sempat ikut
saya ke kantor setiap hari selama beberapa jam, dengan kata lain tetap nyaris
seharian tetap bersama saya, tentu saja suasananya sangat berbeda, karena tetap
ada ritme yang berbeda, ketergesa-gesaan dan tight schedule, jam sekian harus
siap, jam sekian sudah harus ikut saya, dan lain-lain.
Semula impian saya adalah ketika saya
dirumah adalah semuanya indah, semua bisa bersama-sama, dan segala impian indah
lainnya, ternyata tentu saja realitanya tidak semudah itu, meskipun bekerja
dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah dan bisa membawa anak ke
kantor, anak-anak sepertinya dibawah sadar mereka tahu bahwa mereka harus
mandiri, karena saya “masih” punya tanggung jawab yang lain, ini membuat mereka
cenderung lebih cekatan, dan mandiri, karena mereka ikut terlibat hampir dalam
semua kegiatan saya, misalnya ketika hari tertentu saya harus menitipkan mereka
di daycare, mereka harus siap lebih pagi, karena perjalanan yang tidak dekat,
demikian juga ketika hari les, atau berkunjung ke rumah teman.
Ketika saya berada dirumah hari-hari
pertama yang saya rasakan adalah, anak-anak jadi jauuh lebih manja, bangun
lebih siang, dan ber santai-santai dalam banyak hal, dan mereka yang terbiasa
mengurus kepentingannya sendiri seperti
Meletakkan baju kotor
Menyiapkan meja makan, dan membereskan
sesudah makan
Membereskan sendiri mainannya
Tiba-tiba menjadi kurang disiplin. Sayapun
mencoba mengevaluasi apa yang salah, kemudian saya mencoba menarik kesimpulan
Umumnya ketika mengerjakan sesuatu kami
dikejar agenda berikutnya, misal, umi siapin makan, kalian beresin meja, habis
makan cepat beres-beres, mas dan adik ikut umi ke kantor, atau ke daycare. Waktu
yang terbatas, itu yang selama ini kami hadapi, ketika saya ada selalu ada di
sekitar mereka maka waktu jadi tidak terbatas lagi.
Yang semula sudah tidur terpisah mendadak minta ditemani setiap
malam, atau tiba-tiba pindah ke kamar kami ditengah malam.
Ketika saya mencoba melakukan evaluasi maka
kesimpulannya adalah “saya” penyebabnya, me and my guilty feeling, bisa selalu
berada bersama anak-anak membuat saya “over excited” dan kurang
konsisten , dan inilah saatnya kami semua beradaptasi, saya tentunya untuk bisa
lebih konsisten, berlatih untuk berkata “tidak” sesekali kepada anak-anak,
selanjutnya tentu syauqi dan tsaqib, bahwa saya selalu ada dirumah bukan
berarti bermanja-manja setiap saat.
Dan hari ini lebih dari
tiga bulan saya dirumah, Alhamdulillah kondisinya sudah sangat membaik, syauqi
bahkan sudah mulai membantu adiknya berganti pakaian, meskipun tentu saja
pasang-surut tetap saja terjadi, tapi saya selalu berusaha menikmatinya,
bersyukur setiap saat, Alhamdulillah, karena saya bangga atas keputusan yang
telah saya ambil, dan kini waktunya menjalaninya, dengan bahagia, bersama-sama,
Insya alloh. Semoga Alloh selalu memudahkan. Aamiin.
Saturday, September 14, 2013
Mudik, dan ternyata memang belajar itu dimana saja
11 hari berlibur dengan
rute cirebon-purwokerto-banjarnegara-purwokerto-cirebon, bertemu dengan bagitu
banyak sanak saudara terasa begitu berwarna, Ada yang berbeda dengan lebaran
tahun ini, syauqi yang sudah 6 tahun sudah jauh lebih mandiri dibanding
tahun-tahun sebelumnya, sudah bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, menjaga
adiknya, berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lebih baik (ehem!! Meskipun
ada insiden “instruction”).
Di purwokerto meskipun
diawali dengan tsaqib yang merusakkan alat komunikasi milik mbah, “maaf yah
mbah” semua terasa jauh lebih lancar dibanding tahun-tahun yang lalu, cucu-cucu
mbah di purwokerto memang mempunyai range usia yang lumayan dari 16 thn s/d
baru lahir, disini saya sangat bersyukur melihat kemampuan berkomunikasi syauqi
dan tsaqib, tidak ada kesulitan yang berarti untuk berkomunikasi dengan
sepupu-sepupunya, bermain bersama, berbagi, meskipun akhirnya lebih banyak
bergerumbul dengan yang selisih usianya tidak terlalu jauh, tapi saya sangat
merasakan perbedaan dibanding tahun-tahun yang lalu, sekarang syauqi lebih
percaya diri, untuk mengemukakan keinginannya, baik kepada kami, orang tuanya,
kakek-neneknya maupun ke saudar-saudara yang lebih tua meskipun jadi PR besar
buat kami, karena ternyata kami punya standar kesopanan yang sedikit “berbeda”
ada banyak hal yang saya beri point khusus untuk mudik kali ini:
- Alhamdulillah tidak rewel dijalanan, syauqi mulai bisa memperhatikan jalanan, menghapalkan tempat, dan menghibur adiknya, meskipun perjalanan pulang sangat macet dan bekal di mobil menipis. Syauqi dan Tsaqib tetap menikmati perjalanannya.
- Saya sangat bangga ketika syauqi dengan bisa berkomunikasi dengan baik dengan para remaja (yup teenagers) tidak takut untuk mengeluarkan pendapatnya, berkata “tidak” bila tidak setuju, tapi tetap menghargai pilihan orang lain, salah satunya adalah berebut televisi, hmm klasik sekali yah, saya bangga dia bisa berkata, “aku ga mau nonton itu, itu ga baik” namun memlih untuk menyingkir ketika yang lain tetap mau menonton, dan juga untuk banyak hal lain.
- Mulai bertanggung jawab pada barang-barang miliknya, sudah mulai bisa mengingat barang-barangnya dan menyimpan dengan baik supaya tidak tertinggal, meskipun tetap ada insiden kecil “ketinggalan” namun saya sudah sangat bersyukur untuk kemajuannya ini, Alhamdulillah.
- Bertanggung jawab atas adiknya, Alhamdulillah ini saya sungguh berbangga hati, meskipun dengan caranya sendiri syauqi mulai bertanggung jawab pada adiknya, sepertinya ini dimulai ketika kami mengajak mereka ke masjid dan saya atau abinya bilang syauqi jaga adiknya yah, umi dan abi sholat. Beberapa kali saya titipkantsaqib padda syauqi, meskipun dengan menjerit-jerit dia akan memberi tahu ketika dia merasa adiknya sudah diambang “bahaya” misalnya mau menyebrang jalan, bermain pisau atau menarik-narik kabel listrik
- Membaur dengan baik, dengan siapa saja, dimana saja, ini yang saya sangat bersyukur Alhamdulillah, terbiasa untuk bergau dengan siapa saja tidak dibatasi usia membuat syauqi dan tsaqib terbiasa untuk berada di banyak lingkungan, tidak harus melulu diantara anak-anak.
- Oyah management amplop alias angpao juga sudah bisa diterapkan buat syauqi, bangga sekali ketika dia menyebutkan angka yang lumayan besar untuk pos “Donate” sedekah kata syauqi, Subhanalloh, umi dan abi bangga sekali padamu nak.
Tentunya mudik juga berarti, makan-makan dan
makan-makan bebas masak (ehem) karena dikelilingi koki-koki handal, silaturahim
ke banyak tempat banyak keluarga dan....... syauqi dapat angpao. Banyak yang
mungkin tak terangkum disini, tapi semakin lama semakin merasa bahwa belajar
itu selamanya, dimana saja, kalau kita mau menyadarinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
03 Sept 2013
03 Sept 2013
19 Sept 2013